Mari belajar (lagi) menulis Aksara Jawa :)

Beberapa waktu lalu datang ajakan seorang kawan untuk gabung dan mempelajari Aksara Sunda. Sayang waktunya ga pernah cucok, jadi belum jadi ikut aja.. Tapi sisi baiknya jadi membuatku bertanya: emang aku masih inget Aksara Jawa? Nah lho, aksara sendiri aja dah lupa, mo coba-coba aksara lain. Jadi sebelum mempelajari aksara lain, coba cari-cari referensi lagi tentang Aksara Jawa. Ketemu cukup lengkap dari Wikipedia. Mau mengingat-ingat juga? Mareeee…

Apa itu aksara Jawa?

Aksara Jawa yang dalam hal ini adalah Hanacaraka (dikenal juga dengan nama Carakan) adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, Makasar, Madura, Melayu, Sunda, Bali, dan Sasak.

Bentuk Hanacaraka yang sekarang dipakai sudah tetap sejak masa Kesultanan Mataram (abad ke-17) tetapi bentuk cetaknya baru muncul pada abad ke-19. Aksara ini adalah modifikasi dari aksara Kawi dan merupakan abugida. Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili dua buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “hari”. Aksara Na yang mewakili dua huruf, yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “nabi”. Dengan demikian, terdapat penyingkatan cacah huruf dalam suatu penulisan kata apabila dibandingkan dengan penulisan aksara Latin.

Penulisan Aksara Jawa

Pada bentuknya yang asli, aksara Jawa Hanacaraka ditulis menggantung (di bawah garis), seperti aksara Hindi. Namun pada pengajaran modern menuliskannya di atas garis.

Aksara Hanacaraka memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf “utama” (aksara murda, ada yang tidak berpasangan), 8 pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf vokal depan), lima aksara rekan dan lima pasangannya, beberapa sandhangan sebagai pengatur vokal, beberapa huruf khusus, beberapa tanda baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (pada).

1. Huruf Dasar (Aksara Nglegena)
Aksara Nglegena adalah aksara inti yang terdiri dari 20 suku kata atau biasa disebut Dentawiyanjana, yaitu:
ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga


2. Huruf Pasangan (Aksara Pasangan)
Aksara pasangan dipakai untuk menekan vokal konsonan di depannya. Misal, untuk menuliskan mangan sega (makan nasi) akan diperlukan pasangan untuk “se” agar “n” pada mangan tidak bersuara. Tanpa pasangan “s” tulisan akan terbaca manganasega (makanlah nasi).

Berikut daftar Aksara Pasangan:

3. Huruf Utama (Aksara Murda)
Aksara Murda yang digunakan untuk menuliskan awal kalimat dan kata yang menunjukkan nama diri, gelar, kota, lembaga, dan nama-nama lain yang kalau dalam Bahasa Indonesia kita gunakan huruf besar.

Berikut Aksara Murda serta Pasangan Murda:

Sampai disini sebetulnya sudah bisa langsung dicoba dan biasanya dianggap sah-sah saja tanpa tambahan aksara-aksara yang lain (seperti kutulis di bawah). Karena yang berikutnya rada riweuh juga mempelajarinya.

4. Huruf Vokal Mandiri (Aksara Swara)
Aksara swara adalah huruf hidup atau vokal utama: A, I, U, E, O dalam kalimat. Biasanya digunakan pada awal kalimat atau untuk nama dengan awalan vokal yang mengharuskan penggunakan huruf besar.

5. Huruf vokal tidak mandiri (Sandhangan)
Berbeda dengan Aksara Swara, Sandangan digunakan untuk vokal yang berada di tengah kata, dibedakan termasuk berdasarkan cara bacanya.

6. Huruf tambahan (Aksara Rekan)
Aksara Rekan adalah huruf yang berasal dari serapan bahasa asing, yaitu: kh, f, dz, gh, z

7. Tanda Baca (Pratandha)
Dalam penulisan kalimat dalam Aksara Jawa dibutuhkan pula pembubuhan tanda baca, yang berbeda-beda dalam penggunaannya. Pokoke mumet dot com  :D

Selain huruf, Aksara Jawa juga punya bilangan (Aksara Wilangan)

Waktu SD-SMP rasanya jagoan, sekarang dah ilang semua.. memori jangka panjangnya buruk :( Coba deh..dijamin pusing! Jadi mari sama-sama pusing :)

Ini aku coba tulis nama lengkapku. Semoga bener :D



About these ads

53 thoughts on “Mari belajar (lagi) menulis Aksara Jawa :)

  1. Maaf mbak Mumpuni Dhenok Hastuti, kayaknya ada sedikit kesalahan pada pasangan ‘ta’ yang mendapat ‘suku’. Karena jika pasangam ‘ta’ dan ka mendapat ‘suku’ ataupun panjingan, pasangannya berbentuk pasangan penuh bukan separo

    • maksudnya pasangan penuh bagaimana mas arif. saya baru dengar ini. mohon penjelasannya ya. saya baru belajar menulis aksara jawa soalnya. matur nuwun.

      • halo mbak liana..

        kalo ga salah maksudnya mas arif, aksaranya tetap penuh, bukan sepotong seperti yg saya bikin contoh. jd aksara pasangan ‘ta’ seperti yg saya buat, ketika mendapat ‘suku’ musti kembali ke bentuk asli. kecuali kl dia sebagai aksara pasangan lepas-ga pake suku. semoga cukup jelas. itu tulisan contoh belum diganti lagi hehe..

        yuk belajar lagi :)

  2. untuk mbak dhenok…
    pada kata “hastuti”, aksara pasangan “ta” yang mendapatkan “suku” harus dikembalikan ke bentuk aksara aslinya. Kata-kata yang dikembalikan ke bentuk aslinya jika diberi “suku” antara lain: ka, ta, la. selain itu, untuk menulis nama, kota, lembaga dan sesuatu yang dihormati, harus menggunakan aksara murda atau aksara swara. matur nuwun

    • maksudnya apa tuh, mas teguh? semacam program? atau situs translate spt google translate gitu ya? :)
      kalau bahasa jawa ke indonesia mungkin ga terlalu susah ya.. kecuali kl aksara seperti contoh di atas, mungkin perlu usaha ekstra.
      kecuali juga kalo bahasa jawanya jawa kuno atau sastra. kalau itu sih saya juga ga ngerti… :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s