Pohon Kersen, siapa yang tak kenal?

Siapa yang tidak tahu Pohon Kersen angkat tangan? Dan kubayangkan tak seorang pun akan mengacungkan tangan. Kubayangkan seperti itu karena aku ingin ambil kesimpulan: “tak seorang pun yang pernah melewati masa kanak tidak mengenal Pohon Kersen.”

Seperti halnya pengalamanku sendiri, pengalaman saudara, dan kawan-kawan..semuanya punya pengalaman mengesankan dengan tumbuhan satu ini.

Aku cukup beruntung tumbuh besar di sebuah desa. Aneka macam tumbuhan kukenali dengan baik. Mulai dari tanaman perdu, tanaman buah, hingga tanaman kayu. Tak banyak kawanku di Bandung yang mengenal pohon-pohon kayu macam Mahoni, Sono, Trembesi. Sebuah kegembiraan tersendiri ketika aku dapat menceritakan bedanya pohon Waru dan Waru Gombong. Beberapa pohon khas memang baru kutemui di Bandung, seperti pohon Angsana yang cepet tumbuh tapi juga gampang tumbang itu. Atau pohon Philisium ramping yang tegak lurus menantang langit. Atau pohon yang kubilang eksotis: Ki Hujan yang satu-satunya kujumpai di Lapangan Saparua Bandung. Tapi masih wajar buatku ketika orang tak banyak tahu tentang pohon kayu karena memang tak cukup banyak lahan yang digunakan untuk menanamnya. Tapi kalau Pohon Kersen sampai tidak tahu…please deh! :)

Pohon Kersen memang bukan pohon asli Indonesia, meski sangat mudah kita jumpai sebagai pohon peneduh. Nama Latin-nya Muntingia calabura L. Konon pohon ini berasal dari Amerika Latin dan baru sekitar akhir abad-19 dibawa ke Filipina. Pohon Kersen lantas berkembang biak dengan pesat, menyebar di seluruh wilayah tropis Asia Tenggara, baik sengaja dibawa manusia atau oleh binatang yang memakannya. Di Indonesia, selain dikenal sebagai Kersen, juga akrabĀ  disebut Pohon Ceri atau Talok. Nama-nama lain yang dipakai juga: Kerukup Siam (Malaysia), Datiles/Aratiles/Manzanitas (Filipina), Capulin blanco/Cacaniqua/Nigua/Niguito (Spanyol), di Jamaican cherry/Panama berry/Singapore cherry (Inggris).

Di beberapa tempat kayu Pohon Kersen digunakan sebagai kayu bakar, karena kayunya lunak dan mudah kering. Kulit kayunya yang mudah dikelupas dapat dimanfaatkan sebagai tali. Daunnya juga sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk sakit kepala, anti radang, dan menurunkan gula darah. Selain itu buahnya juga digunakan untuk mengobati asam urat. Di beberapa negara seperti Meksiko dan Srilangka buah Kersen dijual di pasar-pasar tradisional. Selain dalam bentuk buah segar juga diawetkan dan dibuat selai.

Selain buahnya, yang menarik dari pohon ini adalah batangnya yang bercabang-cabang, nyaman untuk sekedar nongkrong sembari meraih buah yang sudah merah. Waktu kecil aku punya langganan cari Kersen di tetangga depan rumah. Ada 2 Pohon Kersen di pinggir jalan. Besar-besar. Kami bisa berjam-berjam nongrong di atas dahan. Kalau sudah begitu biasanya akan dimarahi sama yang punya pohon. Yang kubayangkan sekarang adalah mereka pasti khawatir, anak-anak badung ini akan jatuh lalu sakit, dan mereka tidak mau disalahkan. Tapi namanya juga anak-anak. Pertama dimarahin..tidak mempan. Lalu pohon diberi pagar melingkar..ga mempan juga. Pagernya diganti dengan batang-batang bambu kecil yang ada cucuk-cucuk tajamnya. Hmmm…yang ini agak susah. Tapi tak habis pikir: cari genter! Hohoho… Pastinya dimarahin juga, karena anak-anak kecil ini berlarian suka-suka. di pinggir jalan! :D Nah, kalau sudah dimarahi ke sekian kalinya, barulah berpindah lokasi jajahan hahaha..

Begitu menariknya Pohon Kersen! Setidaknya buatku dan mungkin buat sebagian kawan masa kecilku. Ah, bisajadi juga karena tak cukup pilihan bermain. Tak punya tv, tidak ada boneka. Alam adalah pilihan terbaik, selain ngendon seharian di rumah baca buku cerita. Tapi ya..apapun alasannya, Pohon Kersen memang menarik. Ranting-ranting cukup kuat sekaligus lentur mengayun tubuh para bocah yang mencoba uji nyali naik di ketinggian.

Selain disukai para bocah, Pohon Kersen juga disukai sejumlah jenis burung dan kelelawar. Nah yang terakhir ini aku baru lihat langsung setelah di Jakarta. Selama masa kecilku di kampung halaman, Trenggalek, dan selama di Bandung belum pernah kulihat langsung binatang jenis ini. Aku mendapatinya di Jalan Cikini 2, pada jelang petang. Segerombolan binatang terbang menari mengelilingi Pohon Kersen. Selama beberapa jenak aku berdiam di bawah pohon, memastikan binatang apa itu. Sempat tercelutuk “jangan-jangn ini semacam hantu-hantuan ala film Indonesia”, karena pohon itu berada persis di depan RAPI Film, produsen film hantu-hantuan ga jelas itu :D Akhirnya dapat kulihat detilnya. Binatang dengan mulut runcing dan sayap lentur mengembang. Kemudian aku tahu itu namanya Codot Krawar (Cynopterus brachyotis), kelelawar yang memang suka makan Kersen.

Pohon Kersen di depan RAPI Film

Selain kelelawar, yang sudah biasa kita lihat adalah burung. Entah berapa macam burung yang menyukai Kersen. Tapi sejumlah referensi menyebutkan Burung Cabai Jawa dan Burung Merbah Cerukcuk yang masih bersaudara dengan Kutilang. Selain angin, mereka inilah yang membuat perkembangan Pohon Kersen demikian pesat. Tanpa pandang bulu pun!!! Lihatlah…ini pohon nagkring dengan santainya di atap rumah kecilku.


Suatu kali pernah kupotong -dengan susah payah tentunya- tapi bandel, 2 minggu lalu sudah tumbuh lagi setinggi ini. Hwaaaaaaaaaaaaaaaa…


Tapi yo wislah, ndak apa-apa…mungkin ada yang ingin mengingatkan tentang cerita masa kecil :)

About these ads

3 pemikiran pada “Pohon Kersen, siapa yang tak kenal?

  1. wah ceritanya sangat polos hehe.. masa kecil sy juga dihabiskn brsama pohon kersen. makasih buat ceritanya yg mmbuat sy sprti nostalgia hihi.. skrg lagi nyari bibit kersen buat ditanam dihalaman rumah sbg pohon pelindung/peneduh :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s