Mencoba menanam anggrek (lagi)

Aku punya aggrek! Senengnyaaaaaa.. Hari minggu kemarin mampir ke tempat jual bunga. Niatnya hanya untuk beli tanah dan pupuk. Tapi begitu melihat anggrek..wuih..pesonanya itu lho! Sudah lama aku memutuskan untuk tidak menanam anggrek karena beberapa kali mencoba, tidak berhasil. Kalau tidak mati ya hidup tapi setelah bunga pertama tidak pernah berbunga lagi. Untuk kemudian tetep saja, mati merana. Kali ini aku mau mencoba lagi, semoga berhasil. Pilihanku jatuh pada Anggrek Bulan warna ungu.

mencoba menanam anggrek lagi

Uhuuuuuy punya anggrek baru :)

Sempat kubeli buku cara merawat anggrek, musti dibaca lagi. Ada banyak juga bahan bacaan dari internet. Diantaranya ini yang bisa kurangkum:

Anggrek (famili Orchidaceae) secara alami hidup epifit pada pohon dan ranting-ranting tanaman lain. Namun dalam pertumbuhannya anggrek dapat ditanam dalam pot yang diisi media tertentu.

Pertumbuhan anggrek dipengaruhi oleh:
– faktor lingkungan: sinar matahari, kelembaban, dan temperatur
– faktor pemeliharaan: pemupukan, penyiraman, dan pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman).

Anggrek yang dibudidayakan pada umumnya memerlukan temperatur 28 + 2° C dengan temperatur minimum 15° C. Anggrek tanah pada umumnya lebih tahan panas dari pada anggrek pot. Tetapi temperatur yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Sedangkan kelembaban nisbi yang diperlukan untuk anggrek berkisar antara 60–85%. Fungsi kelembaban yang tinggi bagi tanaman antara lain untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari kelembaban dijaga agar tidak terlalu tinggi, karena dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Oleh karena itu diusahakan agar media dalam pot jangan terlampau basah. Sedangkan kelembaban yang sangat rendah pada siang hari dapat diatasi dengan cara pemberian semprotan kabut di sekitar tempat pertanaman dengan bantuan sprayer.

Berdasarakan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe yaitu, simpodial dan monopodial. Anggrek tipe simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga ke luar dari ujung batang dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh. Kecuali pada anggrek jenis Dendrobium sp. yang dapat mengeluarkan tangkai bunga baru di sisi-sisi batangnya. Contoh dari anggrek tipe simpodial antara lain: Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium sp. dan Cymbidium sp. Anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit.

Anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat di ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang. Bunga ke luar dari sisi batang di antara dua ketiak daun. Contoh anggrek tipe monopodial antara lain: Vanda sp., Arachnis sp., Renanthera sp., Phalaenopsis sp., dan Aranthera sp.

Sementara untuk habitatnya, anggrek dibedakan menjadi 4 kelompok:

* Anggrek epifit, yaitu anggrek yang tumbuh menumpang pada pohon lain tanpa merugikan tanaman inangnya dan membutuhkan naungan dari cahaya matahari, misalnya Cattleya sp. memerlukan cahaya +40%, Dendrobium sp. 50–60%, Phalaenopsis sp. + 30 %, dan Oncidium sp. 60 – 75 %.
* Anggrek terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya matahari langsung, misalnya Aranthera sp., Renanthera sp., Vanda sp. dan Arachnis sp. Tanaman anggrek terestrial membutuhkan cahaya matahari 70 – 100 %, dengan suhu siang berkisar antara 19 – 380C, dan malam hari 18–210C. Sedangkan untuk anggrek jenis Vanda sp. yang berdaun lebar memerlukan sedikit naungan.
* Anggrek litofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada batu-batuan, dan tahan terhadap cahaya matahari penuh, misalnya Dendrobium phalaenopsis.
* Anggrek saprofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering, serta membutuhkan sedikit cahaya matahari, misalnya Goodyera sp.

sumber: http://www.anggrek.org/budidaya-tanaman-anggrek.html