Ningsih, sang perintis (Sekolah Hijau)…

Ningsih, sang perintis (foto: kompas)

“Aku hanya lulusan SD dan cacat, apa yang bisa saya lakukan?” Jangan bayangkan kalimat ini terungkap dengan nada yang mengiba. Sebaliknya kalimat ini terucap dalam nada bersemangat. Karena kalimat ini memang datang dari seorang perempuan perkasa yang mampu menembus segala keterbatasannya.

Namanya Prapti Wahyuningsih. Aku menemuinya Senin lalu di salah satu ruang di sebuah sekolah swasta di Jl. Merdeka Bandung. Awalnya hanya sekedar silaturahmi terkait sms provokatif bernuansa sara yang datang dari seseorang yang kami sama-sama kenal. Namun karena persamaan minat soal pendidikan dan lingkungan hidup, maka di dalam bangunan berusia ratusan tahun berdinding dan berkayu kokoh itupun obrolan berkembang.

Ningsih -demikian ia biasa dipanggil- sudah memasuki dunia kerja saat usianya masih sangat belia, 11 tahun. Tentu saja bekerja bukanlah pilihan terbaik yang bisa ia pilih. Bekerja merupakan satu-satunya pilihan yang ketika kedua orang tuanya tak sanggup menyekolahkannya dan keringatnyalah yang sejauh itu ia tahu mampu menghasilkan rupiah untuk mendukung perekonomian keluarga kecil mereka, ia dan kedua orang tuanya.

Dalam perjalanannya sebagai buruh, Ningsih melihat sendiri ketidakadilan yang terjadi dalam hubungan antara pemilik modal dan para buruh. Seiring pertambahan usia dan kemampuannya mencerna persoalan, dia mulai melibatkan diri dalam organisasi buruh. Ia pun mencoba meningkatkan kemampuan kognitifnya dengan membaca. Dan buku pertama yang membuat ia tergoda untuk membaca adalah buku tentang ekonomi politik dari abad 19 yang sangat terkenal itu. “Ga
tau kenapa aku tertarik sama buku itu. Mungkin karena di sampulnya ada gambar laki-laki brewokan,” cerita Ningsih sambil tertawa. Tentu saja yang dimaksud Ningsih bukan Sinterklas :)

Apa yang Ningsih pelajari dari organisasi membuat ia lebih melek terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Di antara ketidakberdayaan menghadapi kemiskinannya sendiri, pada sebuah malam Idul Fitri justru ia mengucap doa: ”Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi makanan. Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi pakaian. Bila saat ini dipandang hina karena keadaanku, izinkanlah suatu saat aku mempunyai sekolah.”

Akhirnya pada tahun 1999 Ningsih berhenti bekerja dan memilih konsentrasi berjuang untuk masyarakat miskin seperti yang pernah menjadi doanya. Wilayah yang ia pilih pendidikan, karena menurutnya pendidikan merupakan awal dari segalanya. “Dalam bayangan saya, sekolah adalah tempat berbagi ilmu dan pengetahuan antarmanusia, bukan sekedar gedung,” ujarnya.

Pelajaran menghitung kambing

Tahun 2002 Ningsih memilih Karawang sebagai ‘sekolah’ pertamanya. Di balik gedung-gedung pabrik menjulang tinggi, adalah sebuah desa bernama Cibenda, Ciampel yang penduduknya berpendidikan sangat terbatas. Ide Ningsih muncul saat melihat sendiri bagaimana petani di desa ini ditipu bandar jagung. Sang bandar menyimpan angka 100 dari angka 170 di timbangan. Jadilah 170 kg jagung hanya dihargai 70 kg. Para petani tidak melakukan protes karena mereka memang tak bisa baca-tulis.

Tapi akan membuat sekolah seperti apa? Uang ia tidak punya. Mau mengumpukan donasi pasti akan membutuhkan waktu lama. Mau meminta support dari pemerintah khawatir malah tidak dianggap. Sementara konsep ‘sekolah’ sendiri tidak populer dalam komunitas. “Abdi alim sakola, rieut (saya tidak mau sekolah, pusing).” Begitu kata Djadjat yang sering dijumpai Ningsih sedang menggembalakan kambing, saat ditanyai perihal sekolah. Tetapi Ningsih tidak kehilangan
akal. Suatu kali dia sembunyikanlah seekor kambing yang sedang digembalakan Djadjat. Saat Djadjat kelimpungan mencari kambingnya yang hilang, Ningsih muncul dan bertanya. Rupanya Djadjat kehilangan kambingnya bukan berdasarkan hitungan tapi dari ciri fisik sang kambing. Dari situlah Ningsih mulai mengenalkan Djadjat pada angka. Djadjat pun menjadi murid pertamanya.

Murid berikutnya adalah gadis kecil bernama Nana. Lantas dimintanya Nana mengajak teman-teman kecilnya untuk belajar menggambar, berhitung, dan membaca bersama hanya dengan menggunakan media tanah yang mereka pijak dan ranting dari pohon yang tumbuh di desa mereka. Ningsih menamai pertemuan ini sebagai ‘main sekolah-sekolahan’.

Keberhasilan pendidikan alternatif Ningsih yang berbuah petaka

Setelah melewati banyak hambatan dan usaha ekstra keras untuk memotivasi anak-anak, pada saatnya Ningsih bisa melihat hasil kerjanya. Pada sebuah siang, tak satupun anak yang hadir untuk main sekolah-sekolahan. Selidik punya selidik rupanya mereka tengah membantu orang tua mereka panen kacang ijo dan melihat orang tua mereka melakukan transaksi jual-beli dengan para tengkulak. Nana yang sudah mulai bisa menghitung protes dengan angka hasil hitungan tengkulak. Sang ayah memarahi anak perempuannya. Ningsih pun kemudian diminta bantuannya untuk memastikan kebenaran angka ini. Dan benar seperti kata Nana, sang tengkulak mengutip 3 kg kacang ijo milik petani. Cerita tentang hitungan Nana ini pun lantas menjadi legenda.

Sejak saat itu, warga desa berubah sikap seratus persen. Mereka mendorong anak-anak atau cucunya untuk ikut main sekolah-sekolahan. Ningsih langsung ‘memanfaatkan’ situasi ini dengan mencari para orang tua yang ternyata sempat mengenyam pendidikan. Meski hanya sebatas sekolah dasar, mereka masih bisa menularkan kemampuan baca-tulisnya kepada warga lainnya. Masih dalam konteks main sekolah-sekolahan, Ningsih memberi sebutan dosen untuk mereka.

Melihat perkembangan baik ini, bersama warga Ningsih mendatangi Kepala Desa Parung Mulia (desa terdekat) untuk minta ijin menjadikan SD dan SMP kelas jauh, agar anak-anak di Ciampel bisa mengikuti ujian nasional. Kemudian hari sekolah saung ini menjadi SD dan SMP kelas jauh yang ditinggalkan Ningsih dan kelangsungannya kemudian dilanjutkan oleh warga desa. Djadjat sang penggembala kambing pun telah lulus SLTA, melanjutkan ke Universitas terbuka untuk kemudian menjadi kepala SMP.

Keberhasilan Ningsih hingga di titik ini tidak hanya mensyarakatkan pengorbanan sekadarnya. Ancaman demi ancaman dia dapatkan dari orang-orang yang terusik kepentingannya karena kehadiran perempuan asli Solo ini. Bukan sekedar teror namun hingga pada tindak kekerasan, bahkan kekerasan terburuk yang bisa dialami seorang perempuan: kekerasan seksual. Ningsih harus membayar mahal keberhasilan pendidikan alternatif yang dirintisnya di desa kecil yang
sebelumnya seperti tidak pernah masuk dalam perencanaan pembangunan negeri ini.

Bangkit dan berjuang kembali

Tampaknya tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup Ningsih. Meski dihajar oleh peristiwa tragis, ditolak, dan tak berdaya oleh sakit, ia tetap mensyukuri hidupnya. “Saya ini lengkap kok, Mbak.. Saya adalah bayi yang ditemukan di kardus, cacat, miskin, tak berpendidikan. Jadi kalau saya harus menghadapi kejadian tidak menyenangkan lainnya ya melengkapi saja,” ujar Ningsih masih tertawa meski air masih mengalir di sudut matanya. “Allah itu Maha Tau, Maha Sempurna, Maha Pencipta.. Akan selalu datang pertolongan pada waktunya. Akan indah pada waktunya.”

Pergulatan Ningsih tidak sederhana. Namun ia berusaha untuk rendah hati, mengalah dengan menyediakan diri menerima resiko, membuat ruang kosong dalam roh hati untuk media penyembuhan, hingga ia merasa sudah siap untuk bangkit dan berjuang lagi. Bukan hanya untuk diri sendiri namun juga untuk sesama. Maka kreativitasnya kemudian mengalir dengan deras. Dan semuanya justru berangkat dari keterbatasannya.

Berawal dari ketidakmampuannya membayar zakat, ia memeras otak untuk mendapatkan uang dari barang-barang yang dianggap ‘tinggal buang’. Maka muncullah ide Zakat Sampah. Ningsih meminta teman-temannya untuk mengumpulkan sampah yang masih bisa didaur ulang untuk kemudian ia jual dan uangnya ia gunakan untuk membayar zakat. Kemudian hari ia jadikan idenya ini untuk keperluan yang lebih besar: Program Zakat Sampah untuk membesarkan sekolah hijau yang kemudian berhasil ia dirikan bersama teman-temannya. Konsep main sekolah-sekolahan yang dulu pernah ia buat, diterapkannya di sekolah hijau ini.

Setelah berpindah-pindah dalam mengajak anak-anak belajar dengan metode alternatif di beberapa tempat, akhirnya sejak Maret 2010 Ningsih memilih tinggal tetap di Kampung Cikasimukan, Desa Mandala Mekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Melalui uang pinjaman tanpa bunga dari teman-temannya, Ningsih mengontrak rumah di desa tersebut. Murid-murid tidak dibebani biaya besar, hanya membayar Rp 1.000. Zakat Sampah masih menjadi program pendukung pendanaan sekolah ini. Sampah-sampah yang ia dapatkan dari sejumlah tempat itu diolah lagi menjadi aneka produk daur ulang seperti sandal, tas belanja, dan wadah kosmetik. Sedangkan sampah organik diangkut ke Lembang, Bandung untuk diolah menjadi kompos. Sementara untuk membayar utang uang kontrakan dan untuk keperluan pribadinya Ningsih mencicilnya dari honor kerja sampingannya, seperti merawat orang sakit, menunggui jenazah, mengasuh anak, atau membersihkan rumah.

Itulah sepenggal cerita Ningsih, perempuan kelahiran 26 Januari 1978, perempuan lajang yang hanya lulus SD namun punya harapan besar akan sebuah perubahan melalui pendidikan alternatif yang peduli terhadap keberlangsungan alam.

*******

“Alhamdulillah saya dikasi peluang untuk berkompetisi mendapatkan kesempatan mempelajari pendidikan alternatif di Hutan Amazon.”  Begitu kata Ningsih mengakhiri perbincangan kami. Wuiiihhh..ngiler aku membayangkan berkeliaran di salah satu hutan penting di kawasan eksotis tersebut.

Nah nah..siapakah yang masih merasa menjadi makhluk paling menderita di bumi ini? Bertemu dan belajarlah pada Ningsih karena dia pakarnya :)

Temans, saat ini Ningsih dinominasikan untuk mendapatkan Frans Seda Award. Beri dukungan ya :)
Cek di:
http://www.facebook.com/Frans.Seda.Award
franssedaaward.atmajaya.ac.id/