Mau hidup damai dan sehat? Jangan bohong deeeeeeeh… :)

Gambar di atas aku dapatkan dari google: Lie Detector. Aku berandai-andai, kalau saja lie detector ini dibuat compact dengan komponen yang simple, kemudian dijual di pasaran dengan harga yang terjangkau, kayanya bakal laris manis. Kenapa? Karena tidak seorang pun yang mau sukarela dibohongi. Sementara kebohongan sendiri tampaknya telah menjadi santapan kita sehari-hari. Dari urusan remeh temeh hingga urusan negara. Dari pengucap kelas pemulung hingga wakil rakyat. Dari lingkungan kumuh hingga lingkungan gedung mewah. Semuanya tak luput dari yang namanya kebohongan.

Alasan berbohong

Ada beragam alasan orang untuk berbohong.
1. Untuk membangun kesan positif. Alasan ini dilakukan untuk melindungi diri dari keadaan yang memalukan dari dirinya, agar tidak mendapatkan celaan.
2. Untuk mendapatkan keuntungan pribadi, alasan ini dilakukan supaya keuntungan hadir bagi diri pelakunya.
3. Untuk menghindari hukuman, di balik suatu kesalahan yang dilakukan selalu ada hukuman, dan orang cenderung akan menghindarinya. Baik itu hukum positif maupun norma sosial.
4. Untuk kebaikan orang lain, implikasinya kebohongan dilakukan supaya orang lain mendapatkan keuntungan dari kebohongan yang dilakukan.
5. Untuk alasan sosial, kebohongan dilakukan untuk kepentingan hubungan sosial, hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa kebanyakan orang merasa dihargai ketika orang lain memberikan pernyataan yang sifatnya positif.

Kebohongan laki-laki dan perempuan

Banyak yang mengatakan kalau perempuan lebih banyak melakukan kebohongan daripada laki-laki. Tapi sebuah survey dan penelitian di Amerika menyebutkan tidak ada perbedaan mencolok dalam hal kebohongan antara laki-laki dan perempuan. Hanya ada kekhasan masing-masing. Berikut beberapa contoh kebohongan yang dilakukan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Di sini kebohongan dilakukan untuk mendapatkan kesan positif (poin 5) atau sering disebut white lie.

Laki-laki:

1. Dalam memberikan penilaian kondisi fisik pasangan. “Kamu tidak terlihat gemuk” adalah sebuah contoh kebohongan klasik, ketika laki-laki berusaha memberikan penghargaan dan membuat pasangannya bahagia.
2. Dalam hal berkomunikasi jarak jauh, baik telefon maupun sms. “Jaringannya sibuk” atau “di luar jangkauan” atau “hp bermasalah”  dan alasan-alasan teknis semacam itu.
3. Dalam hal keterlambatan. “Macet” merupakan contoh yang paling klasik.
4. Dalam menilai masakan. Dalam pandangan umum, seorang perempuan musti bisa masak. Maka tanggapan “Makanan enak” atau “aku suka masakanmu” adalah ekspresi yang sering kita temukan.
5. Dalam hal berbohong itu sendiri. “Percayalah aku, aku tidak pernah berbohong”. Kalimat sakti ini sering membuat perempuan tidak berdaya dan memberikan kepercayaannya seratus persen kepada sang laki-laki.
6. Dalam hal kesetiaan. “Perempuan lain? No Way!” Laki-laki yang dengan bersemangat mengatakan hal itu, justru perlu dicurigai. Pernyataan ‘tidak berpikir tentang wanita lain’ itu sulit dipercaya.

Perempuan:

1. Dalam hal kemarahan. sebagian besar perempuan menyembunyikan kemarahannya. Maka pernyataan “Saya tidak marah” jangan langsung dipercaya. Karena yang terjadi sangat besar kemungkinannya adalah sebaliknya.
2. Dalam hal aktivitas sosial pasangan. Jadi jangan keburu senang ketika pasangan mengatkan “Saya tidak keberatan kamu pergi dengan teman-temanmu”.
3. Dalam hal trauma membuat komitmen baru. Ketika perempuan mengatakan “Saya tidak siap menjalin hubungan saa ini” sebetulnya merupakan ekspresi dari ketakutannya akan mengalami nasib buruk yang sama dengan hubungan sebelumnya.
4. Dalam hal membayar makanan. Perempuan suka mendapat perhatian. Dibayari ketika makan, misalnya, buat perempuan itu adalah salah satu bentuk perhatian. Maka ketika perempuan bilang “Saya tidak keberatan membayar kali ini” maka bisajadi yang terjadi adalah sebaliknya.
5. Dalam hal hubungan intim. “Tadi itu sangat hebat” adalah kebohongan perempuan yang paling sering dijumpai dalam hal hubungan intim. Perempuan akan selalu mencoba mengatakan sesuatu yang dianggapnya akan membuat senang dan bangga pasangannya.

Poin-poin di atas hanya masuk dalam kategori remeh temeh, ece-ece..urang Sunda bilang. Bagaimana jika kebohongan itu sudah bersangkutan dengan hajat hidup orang banyak, hidup dan mati seseorang, nama baik dan eksistensi seseorang?

Tips untuk mengetahui seseorang berbohong atau tidak

1. Lihat tangan orang yang dicurigai bohong. Orang yang sedang berbohong umumnya terlalu banyak atau terlalu sering memegang atau menyentuh bagian wajah: jidat, gosok-gosok hidung, garuk-garuk kuping.
2. Lihat matanya. Orang yang berbohong umumnya lebih banyak berkedip, dan tidak lama mempertahankan kontak mata.
3. Senyumnya menyeringai; senyum menyeringai hanya melibatkan lebih sedikit otot wajah dibanding senyum tulus.
4. Gaya bicara berubah. Biasanya orang lebih banyak memakai kata “dia” atau “ia”, tapi biar lebih menyakinkan, orang yang sedang berbohong lebih sering menyebut nama. Dia juga lebih menekankan beberapa kata, misalnya: “Jujur, aku tidak melakukannya” padahal dalam keadaan biasa ia hanya sekedar mengatakan “ih ga tuh”.
5. Postur tubuh lebih defensif, dengan kedua tangan lebih mendekat ke dada, seolah menutupi sesuatu.
6. Setelah orang yang dicurigai berbohong menjawab pertanyaan kita, sisipkanlah jeda. Amati dia. Keheningan macam ini membuat orang yang sedang berbohong gelisah.
7. Ganti topik. Ganti topik pembicaraan ke arah lain… orang yang sedang berbohong cenderung merasa lega karena topik pembicaraan telah berganti. Ini terlihat di wajahnya.

The problem is..ketika si pelaku ini memang sudah mahir dalam berbohong. Dia sudah tau betul dengan yang namanya kontrol beungeut dan sikap, seberapa kita dapat mengenalinya? Mungkin ada yang akan komentar: kita serahkan saja pada yang di atas :)

Tapi setidaknya, kita musti tahu bagaimana kebohongan itu dibuat? Ada tiga cara yang biasa dilakukan, yaitu falsifikasi (penipuan), conceal ment (penyembunyian), equivocation (samar-samar).
1. Penipuan. Cara ini digunakan dengan membuat suatu fiksi atau karangan cerita yang sesungguhnya tidak sesuai kenyataan.
2. Penyembunyian. Strategi ini dijalankan dengan cara menyembunyikan sesuatu.
3. Samar-samar. Caranya dengan membuat pesan yang isinya samar-samar untuk menghindari suatu persoalan.

Berikutnya mengenai follow up tergantung pertimbangan masing-masing: perlu diadili, hanya dimaafkan, atau abaikan saja.

Kebohongan dan kesehatan

Dalam agama manapun berbohong tidak diijinkan. Tapi aku tidak berminat bicara dari sisi agama. Jadi kukutip saja informasi yang terkait dengan kebohongan dan kesehatan :)

Dari beberapa referensi kesehatan yang kutemukan, disebutkan aktivitas berbohong akan selalu mendatangkan rasa gelisah dan bersalah. Dan efeknya dapat mendatangkan penyakit, termasuk salah satunya adalah stroke. Saat orang melakukan kebohongan maka dapat meningkatkan stres hormon yang bisa mengakibatkan degup jantung dan tarikan nafas meningkat, tekanan darah di jantung meningkat, pencernaan melemah, serat saraf dan otot menjadi sangat sensitif. Itulah sebabnya
tes detektor kebohongan atau polygram bisa akurat, karena mengukur tekanan darah. Disebutkan kalau hal ini sebetulnya bukanlah hal yang serius. Dalam jangka waktu lama jika kebohongan itu terus dilakukan dan bertumpuk-tumpuk, maka keadaan itu berpotensi menimbulkan penyakit seperti stroke, gagal jantung kongestif, dan jantung koroner.

Sekali dua kali berbohong akan oke-oke saja. Tapi begitu sudah menjadi kebiasaan -karena konon kebohongan juga bisa menjadi candu- maka resiko terjangkit penyakit akan semakin besar.

So, kalau ingin hidup sehat secara fisik dan psikis dan juga hidup damai tanpa menyakiti orang lain, tampaknya satu-satunya pilihan adalah bersikap jujur. Bukan begitu, kawans?

Ini dia sejumlah quotation para pemikir dan orang terkenal tentang kebohongan:

Liars when they speak the truth are not believed. (Aristotle, 384 BC-322 BC)
Sometimes the lies you tell are less frightening than the loneliness you might feel if you stopped telling them. (Brock Clarke, 2007)
Lying increases the creative faculties, expands the ego, and lessens the frictions of social contacts. (Clare Booth Luce (1903-1987)
Repetition does not transform a lie into a truth. (Franklin D. Roosevelt, 1882-1945)
The visionary lies to himself, the liar only to others. (Friedrich Nietzsche, 1844-1900)
All men are frauds. The only difference between them is that some admit it. I myself deny it. (H. L. Mencken, 1880-1956)
It is always the best policy to speak the truth–unless, of course, you are an exceptionally good liar. (Jerome K. Jerome (1859-1927)
A lie told often enough becomes the truth. (Lenin, 1870-1924)
A lie can travel halfway around the world while the truth is putting on its shoes. (Mark Twain, 1835-1910)
The history of our race, and each individual’s experience, are sown thick with evidence that a truth is not hard to kill and that a lie told well is immortal. (Mark Twain, 1835-1910)
Lies are like children: they’re hard work, but it’s worth it because the future depends on them. (Pam Davis, House M.D., 2008)
False words are not only evil in themselves, but they infect the soul with evil. (Plato, 427 BC-347 BC)
A liar should have a good memory. (Quintilian, De Institutione Oratoria)
Truth is beautiful, without doubt; but so are lies. (Ralph Waldo Emerson, 1803-1882)
Ambition drove many men to become false; to have one thought locked in the breast, another ready on the tongue. (Sallust, 86 BC-34 BC)
Any fool can tell the truth, but it requires a man of some sense to know how to lie well. (Samuel Butler, 1835-1902)
The best liar is he who makes the smallest amount of lying go the longest way. (Samuel Butler, 1835-1902)
Oh what a tangled web we weave, When first we practise to deceive! (Sir Walter Scott, 1771-1832)
Truly, to tell lies is not honorable; but when the truth entails tremendous ruin, To speak dishonorably is pardonable. (Sophocles, 496 BC-406 BC)

dari berbagai sumber