Menjenguk Kota Apel (4 – Candi Singosari, sedikit dari sisa kejayaan Kerajaan Singosari)

Gerimis sedang menyirami bumi ketika kami tiba di pelataran candi. Langit kelabu menaungi candi abad 13 yang kami kunjungi ini: Candi Singosari. Dingin dan tak begitu ramah. Tapi sekelebat kisah itu mulai tampak serupa fragmen: pesona betis Ken Dedes yang menerbangkan Arok ke alam mimpi, menjeratnya dalam sebuah obsesi kekuasaan. Maka sang pemuda yang tak jelas asal usulnya inipun mencari cara untuk meraih sang putri dari suami yang kebetulan adalah penguasa. Keris Mpu Gandringlah jawabannya. Pada sebuah malam terjadilah pengkhianatan yang lantas disebut-sebut sebagai kudeta pertama dalam sejarah kerajaan di Jawa.

Kini kegemparan itu hanya ada dalam bayangan..muncul dalam imajinasi..tampil dalam pentas teater..tertulis dalam buku.. Seperti halnya Pramoedya Ananta Toer yang mengubah catatan sejarah berdasarkan versinya. Modifikasi menarik yang coba ditempelkan pada kisah masa kerajaan untuk menyentil persoalan kekinian. Tapi aku tidak sedang bicara buku. Aku sedang bicara batu, yang berdiri beku di depanku.


Masyarakat setempat juga menyebut Candi Singosari sebagai Candi Cungkup. Sebelumnya beberapa nama juga disebutkan pernah menjadi label dari candi yang terletak di daerah Singosari, Malang ini, yakni Candi Renggo, Candi Menara, dan Candi Cella. Namun akhirnya candi ini lebih dikenal sebagai Candi Singosari.


Nama Candi Singosari konon pertama kali muncul dalam sebuah laporan kepurbakalaan tahun 1803 oleh seorang Gubernur Pantai Timur Laut Jawa, Nicolaus Engelhard. Laporannya tentang adanya reruntuhan candi di daerah dataran tandus di Malang kemudian ditindaklanjuti dengan penelitian dan penggalian oleh Komisi Arkeologi Belanda pada tahun 1901. Tiga dekade berikutnya restorasi baru mulai dilakukan oleh Departemen Survey Arkeologi Hindia Belanda Timur hingga selesai tahun 1937.


Candi ini dibangun pada masa Arok menjadi penguasa dan pendiri Kerajaan Singosari (1222). Ken Arok berhasil menyerang Kediri dan menyatukan dua wilayah yang pernah dipisahkan oleh Raja Airlangga sebagai warisan untuk kedua putranya (1049). Di bawah Arok, Singosari juga  berhasil mengembangkan pertanian yang subur di sepanjang aliran Brantas, serta perdagangan laut yang menguntungkan di sepanjang Laut Jawa.

Sepeninggal Arok pun, para penguasa Singosari juga berhasil menguasai Sriwijaya di Sumatera Selatan. Kemenangan atas kerajaan maritim tersebut otomatis menjadikan Singosari penguasa perdagangan laut di laut Jawa dan Sumatera. Namun dalam perjalanannya yang dipenuhi dengan pemberontakan berdarah, kerajaan besar ini ternyata tak cukup banyak menyisakan bagian peradaban masa lalunya. Maka Candi Singosari yang merupakan sedikit dari sisa-sisa peninggalan kerajaan abad 13 ini perlu untuk disinggahi.

referensi: buku panduan candi singosari

Perjalanan sebelumnya:
GSV Pandaan dan Agrowisata Malang
Gua Maria Pohsarang dan Kampung Inggris Pare
Inggil Museum Resto Malang