Jalan-jalan ke Kota Pempek (jilid 1)

Sudah akhir pekan lagi! Belum ada kesempatan jalan-jalan.. tapi kali ini aku ingin berbagi pengalaman menyusuri Bumi Sriwijaya.

Akhirnya kesempatan untuk mengunjungi daerah -yang selama ini hanya kukenal lewat makanan ‘pempek’nya- ini datang juga pada jelang akhir tahun lalu. Saat meninggalkan bandara menuju wilayah kota, ada sedikit perasaan mengenali wilayah ini. Yup, ada sedikit kemiripan dengan Manado, tekstur perbukitannya dan panaaaaaaaaaaaaaaasnya! Tapi mengunjungi wilayah baru selalu menarik buatku. Tak pernah sama dan selalu ada hal baru yang kutemui.

Buruan pertama adalah makanan dan kain. Bagi pecinta makanan, banyak jenis makanan enak yang perlu Anda coba. Selain empek-empek yang kita bisa jumpai di banyak tempat di tanah air, ada nama-nama lain seperti:  krupuk kemplang, tekwan, pindang, celimpungan, bolu kojo, hingga kue delapan jam. Salah dua yang sempat saya nikmati adalah pindang, ada pindang daging dan pindang ikan.

Sementara untuk pecinta kain, berkunjunglah ke Kebun Pisang, Sebrang Ulu. Ada banyak toko dan pengrajin kain tradisional Palembang di tempat ini. Tapi konon musti berhati-hati, dan sebaiknya berkunjung bersama orang asli Palembang. Ini saran dari pemilik kendaraan yang kami gunakan jasanya. Dan mereka asli Palembang lho. Entah apa ini hanya untuk menakut-nakuti atau karena memang daerah ini betul-betul rawan. Tapi kupikir tidak ada salahnya mengikuti anjuran mereka, apalagi sekaligus kita mendapat penunjuk arah.

Di tempat ini Anda bisa dapatkan kain songket, jumputan, dan tajung khas Palembang. Jangan salah memilih kain songket yang hand made dengan yang pabrikan. Sebaiknya banyak bertanya kepada pemilik toko. Jadi baiknya memang memilih toko yang pemilikny ramah dan tidak pelit memberi informasi. Untuk songket pabrikan kita bisa dapatkan harga di bawah 100rb. Tapi untuk yang buatan tangan Rp 500 ribupun mungkin hanya dapat kain sebesar sapu tangan :) Intinya Anda mengeluarkan uang untuk barang yang tepat. Begitupun dengan kain jumputan. Ada yang asli dan ada pula yang printing. Akhirnya untuk memenuhi permintaan pasar, mau tidak mau jumputan printingpun diproduksi, itupun musti diproduksi di Jawa. Selembar kain jumputan printing Anda bisa dapatkan dg harga sekitar Rp 100rb. Sedangkan yang jumputan asli minimal kita musti mengeluarkan kocek Rp 250 ribu untuk ukuran yang sama.
Puas melihat-lihat kain, beralih ke bangunan. Informasi yang pertama kudapat adalah Benteng Kuto Besak. Sayangnya waktunya sudah kadung malam sehingga akhirnya tidak mendapatkan gambaran yang memuaskan tentang bangunan bersejarah ini. Padahal dari referensi yang kudapatkan cukup menarik. (Dan entah kenapa juga setelah ngurusin pekerjaan, kunjungan ke benteng inipun tidak terlaksana sampai kemudian kembali ke Bandung :( )

Benteng Kuto Besak adalah bangunan keraton yang menjadi pusat Kesultanan Palembang yang dibangun pada abad 18. Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besak diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803. Sultan Mahmud Bahauddin ini adalah seorang tokoh kesultanan Palembang Darussalam yang realistis dan praktis dalam perdagangan Internasional serta seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagai pusat sastra dan agama di Nusantara. Menandai perannya sebagai sultan ia pindah dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru. Konon pada Perang Palembang 1819 yang pertama, benteng ini dicoba oleh peluru-peluru meriam korvet Belanda, tetapi tak satu pun peluru yang dapat menembus, baik dinding maupun pintunya. Akibat kehabisan peluru dan mesiu, maka armada Belanda tersebut melarikan diri ke Batavia. Dari sinilah lahir ungkapan: “Pelabur habis, Palembang tak alah” yang artinya perbuatan atau usaha yang tak memberikan hasil, hanya mendatangkan rugi dan lelah. Peristiwa ini ditulis dengan penuh pesona dalam Syair Perang Menteng atau disebut pula Syair Perang Palembang.

Begitu ceritanya.. semoga lain waktu aku masih diberi kesempatan berkunjung :)

Di lain hari pilihan jalan-jalannya adalah Monumen Perjuangan Rakyat Palembang atau dikenal juga dengan nama Monumen Pancasila. Bangunan ini terletak di pusat kota, tepatnya di depan Masjid Agung. Lokasi ini dulunya basis pertempuran Lima hari Lima Malam. Peletakan Batu pertama dan pemancangan tiang bangunan pada tanggal 17 Agustus 1975 dan diresmikan pada tanggal 23 Februari 1988 oleh Menko Kesra Alamsyah Ratu Prawira Negara. Monumen ini dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Sumatera Selatan ketika melawan kaum penjajah pada masa revolusi fisik yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang yang pecah pada tanggal 1 januari 1947 yang melibatkan seluruh rakyat Palembang melawan Belanda.

Di bagian bawah monumen terdapat museum dimana kita bisa mengetahui kisah kepahlawan di Palembang ini. Ada berbagai jenis senjata yang dipergunakan dalam pertempuran dan juga berbagai dokumen perang serta benda-benda bersejarah lainnya. Sementara dari atap monumen kita bisa melihat pemandangan Kota Palembang, diantaranya Masjid Agung dan Jempatan Ampera.

Seperti apa sosoknya dua land mark Palembang ini? Bersambung besok yeeee.. :)

Baca lanjutan cerita tentang Palembang