Menjadi Wartawan (?)

Kemarin seorang kawan berkirim sms. Bercerita tentang dirinya yang baru melamar sebagai wartawan di sebuah koran Bandung.

“Memang standar gaji wartawan berapa sih, Mbak?” tanyanya.

“Wah, aku ga tau persis. Kurasa setidaknya di atas UMR. Yang pasti moal beunghar jadi wartawan mah..” jawabku setengah becanda.

“Masa gaji yang ditawarin cuma 700 ribu, Mbak,” lanjut si kawan. “Dengan bulan pertama 30 hari kerja. Full,” tambahnya.

Hadeuuuh.. rada keterlaluan yak!

Kenyataannya profesi wartawan memang belum begitu diapresiasi. Sebagai sebuah profesi yang membutuhkan keahlian khusus, wartawan tak jauh beda dengan status karyawan perusahaan swasta lainnya.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pernah mengeluarkan hasil survey mereka tentang standar gaji wartawan (detik.com/2011). Survey dilakukan di beberapa kawasan di Indonesia. Temuan lapangan menunjukkan tak sedikit perusahaan media yang menggaji wartawannya bahkan jauh lebih kecil dari umah minimum regional. Lalu berapa standar gaji wartawan di Indonesia? AJI menyebut standar gaji wartawan lajang Jakarta adalah sebesar Rp 4,7 juta per bulan. Disebutkan juga beberapa standar gaji waratwan untuk wilayah lain seperti Surabaya (Rp 3.864.850), Semarang (Rp 3.240.081), Yogyakarta (Rp 3.147.980), Medan (Rp 3.816.120), Bandar Lampung (Rp 2.568.462), Pontianak (Rp 3.526.600), Batam (Rp 4.243.030), Pekanbaru (Rp 3.604.700), Makassar (Rp 4.037.226), Kendari (Rp 2.972.000), Palu (Rp 2.150.066), Denpasar (Rp 3.894.583), Kupang (Rp 3.929.228), dan Jayapura (Rp 6.414.320.353). Upah tersebut yang selayaknya diberikan kepada jurnalis muda yang baru diangkat menjadi karyawan tetap.

Sementara hingga akhir bulan lalu Dewan Pers masih belum bisa menetapkan angka terkait standar gaji wartawan. Menurut Ketua Dewan Pers, Bagir Manan, standar gaji sebetulnya sudah dibicarakan bersama perusahaan media, yakni di atas standar upah minimum provinsi (UMP). Namun konon banyak perusahaan media yang belum mampu memenuhi besaran angka UMP masing-masing wilayah. (cttn: UMR Kota Bandung 2013: Rp 1.538.703).

Minimnya gaji wartawan ini memberikan peluang kepada wartawan untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari pihak lain yang berkepentingan dengan informasi tertentu.

“Biasa, Mbak, bikin berita biar dapet amplop,” kata seorang kenalan di kampung halamanku. Bercerita tentang suaminya yang punya ‘kerja sampingan’ sebagai wartawan. Di kota-kota kecil bahkan mereka yang menyebut diri wartawan pun terang-terangan menunjukkan diri sebagai bagian dari kelompok tertentu karena ‘gaji sampingan’ yang mereka dapatkan. Dapat dibayangkan informasi macam apa yang tersaji kepada khalayaknya.

Lantas jadi teringatkan adagium “the new source of power is information in the hand of many“. Menunjukkan betapa powerfull-nya profesi wartawan. Hingga ada penyebutan wartawan sebagai the fourth estate, kekuatan keempat dalam sebuah negara. Sejumlah paparanĀ  ideal lainnya menjadi bagian dari sejumlah mata kuliah di masa mahasiswa dulu. Kebanggaan juga terbangun oleh cerita-cerita dari para senior. Sehingga “jurnalisme itu hebat” demikian terpatri dalam hati. Kerja jurnalistik memberikan manfaat untuk banyak orang: menginformasikan hal yang orang belum tahu, memberikan fungsi edukasi, hiburan, sekaligus sebagai kontrol sosial. Sungguh ideal. Sungguh hebat. Dalam keseharian ditandai dengan penggunaan jaket himpunan. Kalau belum sampai si jaket bisa berdiri, belum akan dicuci :)

Tapi terjun ke dunia kerja, menjadi bagian dari sebuah media sebagai industri adalah persoalan lain. Memang, tidak serta merta semua idealisme harus dibenturkan dengan hal-hal praktis. Banyak yang mencoba bertahan, setidaknya secara mendasar masih memegang etika jurnalistik. Namun dalam sejumlah hal tetap badami dengan kebijakan perusahaan. Sebagian lainnya memilih menjadi pragmatis saja. Jurnalisme tak lagi sebagai ‘cara hidup’ tapi sekedar pekerjaan, tak ubahnya pekerjaan lainnya.

Tak heran kalau kemudian banyak bermunculan buku-buku ‘bagaimana menjadi wartawan’. Judul-judul bombastis bertebaran memenuhi rak-rak toko buku, semuanya menawarkan cara cepat menjadi wartawan handal. Sedemikian menariknyakah profesi wartawan? Yang jelas para penulis buku tersebut melihat peluang pasar. Mereka melihat potensi itu dan merumuskannya dalam trik-trik menarik yang terangkum dalam sebuah buku. Perkawinan antara menjamurnya media baru dan wartawan sebagai pekerjaan tampaknya menjadikan buku-buku tersebut cukup dicari.

Aku terjun ke dunia media (radio siaran) pada medio 90-an. Saat itu keran informasi begitu terbatas. Yang tersedia pun dihadapkan pada rambu-rambu yang sangat ketat. ‘Kesalahan’ berakhir pada bredel media. Tanpa pengadilan. Lalu Suharto lengser. Banyak media baru bermunculan. Semua seolah berlomba untuk bersuara. Radio siaran yang awalnya hanya jrang jreng muter lagu, tiba-tiba membuat aneka program informasi. Riuh. Ramai. Meriah. Di satu sisi menarik. Tapi pada sisi lain mengkhawatirkan. Hal-hal mendasar terkait etika kurang menjadi pertimbangan. Pencarian informasi yang hanya mengandalkan kawan alias copy-paste. Instan. Berita pun bisa dibeli dengan amplop atau souvenir. Sementara pada sisi teknis pun banyak yang belum memenuhi syarat. Laporan udara yang sangat panjang. Kalimat-kalimat yang sangat ‘cetak’. Dan sebagainya..dan sebagainya. Hal yang sama juga terjadi pada media cetak. Koran dan tabloid baru menjamur. Banyak yang kemudian gugur. Kalah bersaing atau mismanagement.

Tak lama berselang teknologi informasi melaju demikian kencang. Generasi baru seolah tak sempat menyimak sejarah teknologi sebelumnya. Sedangkan generasi lama terbengong-bengong sampai kemudian dengan tergagap-gagap berusaha untuk menyamakan percepatan agar tak jauh tertinggal. Terkait dengan media informasi, hal yang lalu pun mengikuti. Bahkan lebih beraneka. Portal dan situs berita bermunculan. Bahkan blog-blog pribadi pun menyediakan konten berita. Setiap orang bisa publish berita, bahkan lewat jejaring sosial. Persoalan yang lalu pun masih mengemuka: etika yang terabaikan. Bahkan dengan kemampuan gramatika yang terbata-bata. Pernah suatu kali seseorang dengan begitu bersemangat mengirimkan berita olahannya yang ditayangkannya di blog pribadinya ke wall akun fb-ku. Beberapa kali hingga kemudian aku meminta untuk tidak mengirimkan lagi. Bersemangat dan percaya diri. Padahal belum sampai menyimak konten, sudah langsung dibuat jengah dengan aneka kesalahan gramatika.

Lalu: “Gimana dong, Mbak, kan belum bisa bikin berita?” tanya si kawan.

Tanpa pembekalan tentang cara membuat berita, informasi seputar perusahaan, informasi kebijakan redaksional, si kawan diminta ke lapangan. Judulnya mencoba meliput Pilkada Jabar. Bahkan tata cara berhadapan dengan narasumber juga tidak diberikan. Terlalu gegabah kupikir.

Setengah tahun pertama kerja di radio, pekerjaanku baru menerima laporan dan pertanyaan pendengar. Lalu menindaklanjutinya dan melaporkannya ke ‘udara’. Berikutnya menyimpannya dalam catatan, sebagai arsip atau bahan follow-up berikutnya. Aku belum mendapat penugasan lapangan. Hingga peristiwa itu terjadi.

Hari itu, 17 Juli 1997. Sempati Air jatuh di kawasan perumahan Margahayu, Bandung. Sebanyak 30 orang meninggal dunia. Pada masa itu aku setidaknya sudah mempelajari jurnalistik radio dan sedikit banyak sudah menerapkannya dalam follow-up kasus dari pendengar, sudah pula terbiasa melakukan pendekatan ke narasumber meskipun lewat telefon.. Namun berada di lapangan situasinya sangat berbeda. Terlebih peristiwa kecelakaan. Pesawat udara. Aku belum paham tentang pesawat Fokker-27 dan jenis lainnya. Bahkan sosok pesawat pun itu kali pertama kulihat dari dekat. Orang-orang berlalu-lalang. Petugas keamanan, petugas medis, wartawan, dan penduduk sekitar yang ramai sebagai penonton. Lalu dari dalam pesawat tim evakuasi mulai mengeluarkan tandu-tandu berisi tubuh manusia. Hitam terbakar. Aromanya menyengat. Aku mendadak linglung. Bahkan sebetulnya bukan mendadak. Sejak awal menginjakkan kaki di area jatuhnya pesawat, aku sudah kehilangan ‘segalanya’. Persiapan sekadarnya sudah tandas menguap begitu berhadapan dengan ratusan manusia. Aroma daging terbakar yang memunculkan ngeri tersendiri. Dan ketidakyakinan sebagai reporter radio. Pada masa itu reporter radio sangat sedikit. Panik! Ya, ketika itu aku panik. Sempat menyampaikan sejumlah informasi. Tapi kunilai itu sebagai gagal. Bukan semata kegagalanku sebagai reporter, melainkan kegagalan redaksi. Kegagalan koordinator liputan yang menyerahkan liputan besar pada anak bawang, mahasiswa yang mencoba bekerja, belum kenal lapangan, daaan..minim percaya diri.

Berangkat dari belajar dengan pakem jurnalisme konvensional, melatihnya di radio yang notabene juga ketat dalam aturan jurnalisme, mungkin jadi terkesan kuno. Tapi aku tak keberatan disebut kuno daripada melakukan kesalahan-kesalahan fatal seperti banyak dijumpai di media belakangan ini. Bukan hanya dari media alternatif, tapi juga dari media-media mainstream.

Media sebagai industri -dalam hal ini televisi- juga melahirkan tantangan tersendiri, terutama bagi jurnalis yang mencoba bertahan dengan idealismenya. Rating yang ketat menuntut dibuatnya program yang mengacu pada selera pasar. Berebut menjadi yang pertama. Mengabaikan konfirmasi, tanpa cover both side, bahkan tayang untuk kepentingan tertentu.

Pada tahun 2011 catatan dewan pers menunjukkan ada 511 aduan dari dari masyarakat baik secara langsung maupun melalui tembusan kepada Dewan Pers. Menurut anggota dewan pers, Agus Sudibyo, 80% kasus adalah jurnalis tidak mematuhi kode etik jurnalisme. Bentuk pelanggaran yang paling umum adalah tidak adanya konfirmasi, tidak ada verifikasi, mencampurkan fakta dan opini, data tidak akurat, tidak melakukan wawancara langsung, melanggar privasi, menghina sumber berita, intimidasi, dan lain-lain.

“Jadi gimana dong, Mbak?” tanya si kawan.

Minat terhadap profesi kewartawanan dan atau kebutuhan akan pekerjaan (yang kebetulan sebagai wartawan) tentu saja tak cukup menjadikan seseorang sebagai wartawan. Ada sebuah tanggung jawab yang musti dipikul para pekerja media. Tentunya kesalahan bukan pada pemilik minat dan atau pencari kerja sebagai wartawan. Adalah tanggung jawab perusahaan media untuk memberikan penggodogan hingga si calon wartawan siap berkarya dan tahu apa yang menjadi tanggung jawabnya.

“Baiklah, Nak..ikuti saja. Belajar saja dulu. Gali ilmu sebanyak-banyaknya. Anggap saja sedang mendapatkan workshop yang dibayar.” *dan kaburlah sekiranya itu media tak layak dijadikan tempat berkarya dan belajar :) *
cat journalist

*pic from google