Kain tradisional Indonesia

sebagian kain koleksikus

sebagian kain koleksiku

Aku mulai menyukai kain tradisional Indonesia ketika sudah duduk di bangku kuliah. Meninggalkan kampung halaman, bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai latar belakang, benar-benar telah membuka mataku, betapa kayanya negeri ini. Dan sesungguhnya aku malu karena sebelumnya bahkan aku sama sekali tidak memperhatikan kain tradisional di tempat aku tinggal.

Begitulah awalnya.. dengan keuangan yang terbatas aku menyisihkan rupiah untuk mendapatkan kain-kain tradisional yang kusukai. Agak beruntung kalau ada teman yang kebetulan keluar kota, baik di seputaran pulau Jawa maupun luar pulau. Titipanku cuma 3 macam: kopi, pernak-pernik, dan kain! Dari situ aku sedikit-sedikit mulai mempelajari tentang per-kain-an Indonesia :)

Di Jawa kita mengenal bermacam batik. Awalnya barangkali yang sering kita dengar namanya hanya Batik Cirebon, Batik Garut, Batik Jogja, Batik Solo, Batik Pekalongan, dan Batik Madura. Namun setelah peristiwa klaim-mengklaim Malaysia atas beberapa produk budaya Indonesia, Batik pun booming. Pada 2 Oktober 2007 UNESCO menetapkan Batik sebagai kain tradisional Indonesia. Di dalam negeri akhirnya ada kesadaran untuk menjadikan batik sebagai salah satu pakaian wajib. Selain itu, berbagai daerah juga bersemangat memunculkan batik khas daerahnya masing-masing. Batik daerah Yang sebelumnya tidak pernah terekspos akhirnya bermunculan. Kita banyak jumpai kemudian: Batik Batavia, Tasikmalaya, Bogor, Cimahi, Sidoarjo, Banyuwangi, dll. Kain-kain motif lokal pun makin semarak bermunculan di wilayah luar Jawa, seperti Batik Papua, Palembang, Jambi, Pontianak, Banjar, Minahasa, dsb.

Apa kekhasan dari tiap Batik tersebut?

Batik Jogja didominasi motif batik geometris besar dengan warna putih terang. Perbedaan dengan batik Solo hanya pada warna. Warna putih batik Solo tidak seterang Batik Jogja. Selain itu, motif Batik Solo dilengkapi dengan warna soga emas yang biasa dipakai di lingkungan Kraton Kasunanan Surakarta. Batik Jogja dan Solo sangat kental dengan nilai sejarah. Maka tak heran Kedua jenis motif batik ini tidak boleh dipakai oleh umum dan hanya lingkungan kraton saja yang boleh memakai batik dengan motif tersebut. Yang kita temui di pasaran merupakan modifikasi dari motif aslinya.

Sementara untuk batik asal wilayah pantai seperti Cirebon, bisa dilihat dari warna-warna kain yang lebih cerah, seperti merah, merah muda, biru langit, hijau pupus dengan warna-warna cerah. Hal ini menggambarkan sifat para penduduknya yang lebih egaliter dan terbuka. Kita bisa jumpai motif-motif seperti aktivitas masyarakat di pedesaan atau gambar flora dan fauna yang menarik. Tidak jauh dengan Cirebon, Batik Pekalongan juga banyak dipengaruhi oleh budaya pendatang, seperti dari India, Arab, Cina, Belanda, dan Jepang.

Sementara batik di wilayah luar Jawa, pengerjaannya sebagian besar menggunakan metode printing dengan motif lokal. Masing-masing juga memiliki kekhasan. Batik Minahasa memiliki motif yang cenderung pada garis-garis, seperti motif Krawang dan Bentenan. Batik Palembang menggunakan motif kain jumputan. Batik Pontianak dan sebagian besar wilayah di Kalimantan menggunakan motif suku Dayak. Sementara Batik Papua paling banyak menggunakan motif Asmat dengan warna-warna cerah.

Selain batik, Indonesia juga memiliki kain tradisional lainnya, yakni tenun dan songket. Antara lain ada Songket Padang, Songket Palembang, Ulos Batak, Tenun Bima, Tenun NTB, Tenun Sulawesi, Kain Aceh, Kain Sasirangan Kalimantan, Kain Tapis Lampung, Kain Bugis, dll.

Seperti halnya batik, songket dan tenun tiap daerah juga memiliki keunikannya masing-masing. Misalnya pada masyarakat Minangkabau, kain tradisionalnya dibuat dengan cara ditenun, disulam, maupun disungkit atau disongket. Kain songket Minangkabau terdiri dari dua jenis, yaitu Kain Songket Balapak (kain songket yang seluruh permukaan kainnya disongket benang emas atau perak yang rapat dan padat) dan Kain Songket Batabua (kain songket dengan benar emas atau perak yang motifnya tersebar atau berserakan).

(dari berbagai sumber)

Mencoba berwirausaha dengan kain tradisional Indonesia

kain tradisional indonesia

kain tradisional indonesia

Sudah beberapa bulan terakhir ini aku mencoba menjajagi dunia usaha fashion. Kok bisa? Modis juga kaga! Hehehe..

Yup, barangkali betul, aku dan banyak diantara kita bukan orang yang terbilang modis dan fashionable. Tapi apa betul begitu? Memang ada betulnya juga. Fashionable means following a style that is populer at particular time, begitu kata kamus oxford. Tapi kuambil sederhananya aja, bahwa fashion adalah cara kita mengekspresikan diri kita melalui busana dan pelengkapnya yang kita pakai. Mengikuti tren mode boleh, tapi untuk apa kalau tidak sesuai dengan karakter kita alias kita tidak menjadi diri sendiri? Jadi kurasa sebetulnya setiap kita sudah punya standar cara berpakaian sendiri. Namun untuk menjadikannya wilayah kerjaan tentunya membutuhkan passion sendiri. Dan aku cukup percaya memilikinya. So, why not?

Tapi rupanya ini bukan langkah mudah ya.. Setelah cukup lama bergelut dengan pertanyaan: berani engga berani engga untuk terjun ke dunia usaha.. akhirnya kuputuskan untuk berani. Tidak mudah memang setelah sekian lama berada di comfort zone, menjadi karyawan biasa yang digaji bulanan, sekarang memutuskan untuk membangun usaha agar bisa menggaji diri sendiri. Tapi kayanya akan panjang dongengnya kalau bicara soal ini. Curhat dot com :D
Lanjut ah…

Pilihanku jatuh pada kain tradisional Indonesia. Aku selalu bilang: aku ini Indonesia sekali. Maka aku ingin menggunakan produk yang sangat Indonesia. Selain karena kain tradisional kita ini memang cantik2 dengan proses yang menakjubkan, juga sedikit berharap akan lebih banyak orang lg yang lebih mengenal dan mencintai karya kerabat setanah air.

Mudah2an usahanya berjalan lancar.. Amin.