Tuntas menyaksikan Odyssey, ada kegembiraan tersendiri buatku. Akhirnya berhasil nonton ke bioskop setelah sekian lama gagal karena berbagai hal. Kegembiraan yang lain adalah kepuasan mendapatkan hiburan sekaligus tontonan yang keren. "Aku merasa perlu untuk menonton ulang film ini," kataku kepada teman-teman nontonku hari itu. Sebagus itukah? Buatku, iya. Jika memungkinkan, aku akan menonton lagi film besutan Christopher Nolan ini.
Baca juga: The Most Prcius of Cargoes, Kisah Muram Penyintas Holocaust
Saat datang ajakan dari kawan-kawan untuk nonton Odyssey, aku langsung mengiyakan. Tanpa merasa perlu mencari tahu ini film tentang apa. Hanya lihat posternya dengan Matt Damon muncul sebagai sosok utama, sudah cukuplah buatku
Sinopsis
Film diawali dengan pemandangan pantai, tampak Odysseus (Matt Damon) tengah duduk berdua dengan perempuan--yang entah di menit keberapa namanya baru dimunculkan, itu un hanya sekali--bernama Calypso (Charlize Theron). Odysseus terlihat linglung, terbawa halusinasi akibat pengaruh bunga teratai yang diberikan Calypso. Halusinasi yang membawa ingatannya berkelana ke masa lalu.
Salah satu ingatan yang muncul adalah aktivitas bersama di pinggir pantai. Dari sini alur cerita dibuat maju-mundur. Awalnya ini cukup membingungkan buatku. Sosok-sosok yang lekat dengan sang Raja Ithaka muncul dalam penampakan yang berbeda usia. Di beberapa scene-nya tampak sosok muda yang adalah anak Odysseus, Telemachus (Tom Holland). Beberapa poin di scene ini menjadi kunci jawaban dari pertanyaan Telemachus tentang ayahnya.
Satu tahun lamanya Odysseus memimpin pasukan dalam Perang Troya. Dengan menggunakan siasat Kuda Troya, ia memenangkan pertempuran. Namun, ternyata tantangannya bukan pada perang, melainkan pada perjalanan pulang.
Baca juga: The Fighter, Film tentang Keluarga dan Pengorbanan
Petualangan seru dihadapi Odysseus dan awaknya saat berhadapan dengan aneka makhluk mitologi yang legendaris. Diawali dengan perjumpaan dengan Polyphemus, raksasa bermata satu putra Poseidon. Odysseus perlu mencari cara untuk dapat keluar dari gua tempat bernaung sang raksasa. Korban berjatuhan. Meski hanya memiliki satu mata, Polyphemus dapat menangkap satu per satu anak buah Odysseus dan mengunyahnya. Ketika anak buah tersisa berhasil keluar dari gua, dengan kegeramannya Odysseus memanah mata si raksasa. Polyphemus kemudian menyumpahinya akan dapat celaka. Sumpah dari anak Dewa Poseidon yang dianggap bertuah.
Perjumpaan berikutnya adalah dengan Laestrygonians, bangsa raksasa kanibal dengan penampilan yang cukup mengejutkan. Seolah kita dibawa ke abad 20 sekian. Ukuran tubuh besar, dilengkapi dengan baju besi, dan gerakan tubuh yang cepat dan cermat. Mereka dikenal buas dan pemakan manusia. Pasukan bertumbangan.
Dalam kondisi lelah dan kelaparan, mereka tiba di pulau yang dihuni penyihir. Tak tanggung-tanggung yang dilakukan sang penyihir perempuan itu adalah mengubah wujud anak buah Odysseus menjadi babi. Sang raja yang ditinggalkan oleh anak buahnya karena pertengkaran akhirnya justru bisa menolong mereka. Circe (Samantha Morton), sang penyihir melepaskan mereka kembali dalam bentuk semula dan memberi beberapa pesan kepada Odysseus, salah satunya adalah menemui orang-orang yang sudah mati.
Pertemuan itu makin menegaskan ramalan masa depan Odysseus yang disebutkan bakal kehilangan semua anak buahnya, akibat pertengkaran dan ketidakpatuhan pada peringatan.
Baca juga: Gundala, Harapan Baru Film Laga Indonesia
Tantangan pertama adalah saat berhadapan dengan Siren. Odysseus meminta anak buahnya untuk menyumpal kuping mereka dengan penutup. Sedangkan dirinya sendiri minta diikatkan di tiang untuk mengetahui dampak dari mendengarkan nyanyian Siren, makhluk berwujud perempuan dengan separuh badannya adalah burung. Nyanyian mereka dikenal memikat para pelaut dan menyesatkan mereka.
Terlepas dari Siren, mereka dihadang monster laut ganas berkepala enam. Makhluk ini tinggal di tebing sempit, setelah mereka berhasil membebaskan diri dari ancaman pusaran ganas. Jumlah anak buah Odyseus makin menyusut. Terakhir, badai dahsyat berhasil memorakporandakan kapal mereka. Itulah awal perjumpaan Odyseus berjumpa Calypso, nimfa abadi yang namanya hanya disebut sekali itu.
Ah, ya, pada setiap menghadapi pergolakan batin, Odysseus selalu dikunjungi Dewi Athena (Zendaya)yang memberinya semangat dan saran.
Baca juga: Honest Thief, Saat Aktor Gaek Asik Beraksi
Odyssey, Kisah Pergulatan Batin Sang Raja
Kisah Raja Ithaka yang disutradarai Christopher Nolan ini diadaptasi dari salah satu kisah paling tua di dunia, The Odyssey dari Homer. Menyimak film dari awal--meski sedikit terlambat--aku terpaku pada nuansa yang tertangkap mataku: Trilogi Batman besutan Nolan. Yup, ada vibes yang agak mirip.
Hal yang sangat mudah tertangkap mata adalah teknologi yang menampilkan gambar-gambar dramatis, adegan demi adegan yang terasa begitu nyata. Rupanya ada teknologi kamera yang baru dikembangkan oleh IMAX. Dan Nolan merekam seluruh kisah Odysseu ini dengan menggunakan kamera IMAX. Kamera edisi baru ini disebutkan memiliki fitur senyap sehingga dapat mengambil gambar jarak dekat untuk adengan-adegan emosional tanpa terganggu bising seperti yang dimunculkan kamera generasi sebelumnya.
Petualangan seru dari Odysseus ini buatku sendiri memuaskan. Penuturannya dan sinematografinya. Meski sesungguhnya, inti dari kisah ini bukan semata cerita petualangan melainkan perihal pergulatan batin seorang pemimpin. Dalam kesuksesan sering kali pemimpin dihadapkan pada kepongahan yang membuat mereka tidak berhati-hati. Di sisi lain juga, segala macam pengalaman hidup itu pada akhirnya mengerucut pada kebutuhan yang sesungguhnya dalam hidup: kedamaian.
Mungkin yang sedikit mengganggu--ah, sebetulnya bukan mengganggu, sih--adalah sedikitnya sentuhan emosional. Bukan karena tak tergarap dengan baik, melainkan karena sebagai penonton jadinya lebih terfokuskan pada hal teknis yang memang keren. Sebetulnya banyak adegan yang menyentuh, dan semua pelakon memainkan perannya dengan sangat baik. Cuma ya, itu tadi, benaknya lebih terseret untuk takjub terhadap pergerakan adegan lewat gambar-gambar bergerak yang memang memukau.
Baca juga: The Swordsman, Adu Akting Joe Taslim dan Jang Hyuk
Odyssey mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus film. Pasca penayangan perdana di Empire Leicester Square, London, pada 6 Juli 2026, berbagai komentar bermunculan dari Rotten Tomatoes, Variety, Screenrant, Looper, Deadline, dan lain-lain, yang hampir semuanya memberikan skor tinggi terhadap film ini. Yang tidak setuju? Tentu ada saja. Mengingat Odyssey adalah epos ribuan tahun lalu yang telah bersemayam di benak banyak pembacanya dengan berbagai imajinasi mereka.
Kamu belum nonton? Buruan nonton, gih, sebelum turun layar.






