Pagi tadi selintas mendapati satu postingan di media sosial: Guruh Sukarno Putra berpulang. Hah, serius? Buru-buru cek media online. Positif. Guruh berpulang setelah semalam mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Lamat-lamat suara Tika Bisono menyambangi kupingku: "Putih-putih melati, mekar di taman sari ..." Melati Suci, lagu yang ditulis Guruh untuk ibunya, Fatmawati yang meninggal dunia saat iya berusia 27 tahun. Lagu itu terasa begitu agung sekaligus sunyi. Pelan, ada yang meleleh di sudut mataku. Tak banyak nama seniman yang kepergiannya sampai bisa mengundang kesedihan yang cukup dalam buatku. Tak semua karya musiknya bisa kuputar untuk program siaran, tapi pada banyak kesempatan, di tengah berbagai karut-marut yang terjadi di tanah air dari masa ke masa, lagunya selalu mengingatkan akan kecintaan terhadap tanah air.
Baca juga: Jakob Oetama Berpulang
Guruh merupakan sosok istimewa. Bukan semata karena ia anak tokoh proklamator. Namun, lebih pada soal pilihan hidupnya yang tak biasa. Terlebih jika dibandingkan dengan sosok-sosok lain yang menyandang privilege sebagai anak orang nomor satu di sebuah negara.
Pilihan Hidup Guruh dan Sosok Penting pada Masa Kecilnya
Membaca Guruh tidak akan lengkap jika tidak menengok ke masa kecilnya. Sebagai anak seorang presiden, ia tinggal di istana negara yang segala sesuatunya sudah terpenuhi. Kebutuhan-kebutuhannya disediakan tanpa menunggu diminta. Keamanannya terjamin. Tentu saja ia memanfaatkan semua kemudahan, privilege itu. Namun, nyatanya tidak serta merta ia menjadi sosok selebritas apalagi rakus seperti yang ditunjukkan oleh sebagian anak-anak presiden yang lain. Setidaknya anak presiden periode setelah bapaknya.
Nama Tommy Suharto kudengar sejak masa kecil. Bukan, bukan dari media melainkan dari bahan percakapan para orang tua, dari mulut ke mulut. Beberapa kecamatan di kampung halamanku adalah produsen cengkeh. Nyaris semua petani cengkeh mengalami kebangkrutan pasca Tommy--melalui Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh atau disingkat (BPPC) yang dipimpinnya--memonopoli perdagangan cengkeh. Bahkan para petani--saking marahnya--membakar lahan cengkehnya lalu mengganti dengan komoditas baru. Cerita ini tak kita temukan di media. Tak begitu jelas juga soal kebenarannya, karena aku pun tak melakukan konfirmasi ke lapangan secara langsung. Bahwa monopoli itu dilakukan, tentu nyata adanya. Pertanian dan perdagangan cengkeh kembali marak pada pasca pemerintahan Suharto.
Apa lagi yang bisa kita sebut dari bisnis keluarga Cendana? Tambang batu bara, proyek mobil nasional, hak pengelolaan jalan tol? Apa lagi? Jika dibuat daftar pasti akan panjang. Guruh tidak melakukan itu. Ia bukan pemburu kekuasaan. Ia memanfaatkan dengan baik darah seni yang mengalir di tubuhnya. Ia berkiprah di dunia tari, kain tradisional, musik daerah demi kecintaannya terhadap Indonesia.
Baca juga: Farida Pasha, Mak Lampir, dan Misteri Gunung Berapi
Guruh bersekolah di sekolah umum. Sebagai anak seorang presiden yang juga gemar belajar, wawasan kebangsaan ia dapatkan dari melihat dan mencatat apa yang dilakukan oleh ayahnya sendiri maupun para bapak bangsa. Di luar itu, ia bermain layaknya anak-anak pada umumnya. Barangkali yang membedakan adalah dengan siapa saja ia bermain. Tentu ia bergaul dengan anak-anak para pejabat pada masanya, tapi ia pun bergaul dengan anak-anak para pegawai istana, bahkan dengan mereka yang bisa dibilang level rendahan seperti tukang kebun, tukang masak, dan para pelayan. Ia terbiasa berada di tengah masyarakat dengan strata sosial yang beragam. Di balik hal sederhana yang menjadi kesehariannya, rupanya ada sosok penting yang memiliki andil.
Namanya Suminah Sastrowijoyo. Ia adalah perempuan pengasuh yang menemani putra bungsu Presiden Soekarno itu sedari bocah. Guruh memanggilnya Nek Joyo. Dari perempuan sederhana yang bahkan buta huruf inilah Guruh banyak belajar tentang kehidupan. Nek Joyo mengenalkan perihal kehidupan rakyat kecil yang sebenernya. Meski merupakan anak orang nomor satu di negeri ini, Guruh diajari oleh Nek Joyo tentang bagaimana menjadi manusia biasa. Dari Nek Joyo, bukan hanya mendengar, tapi juga mengamati langsung, Guruh belajar tentang penderitaan, kesederhanaan, dan keikhlasan. Hal-hal inilah yang membentuk kepribadian Guruh dan empatinya terhadap orang lain, dalam hal ini masyarakat kalangan bawah.
Ketika masa dewasanya tiba, Guruh tidak memilih untuk mencari uang dan kekuasaan. Ia menceburkan diri ke dunia seni. Itu pun bukan seni gemerlap, melainkan seni yang muncul sebagai bagian dari pemberontakan dalam dirinya. Tak heran jika yang lahir kemudian adalah karya-karyanya yang unik dan orisinal.
Baca juga: Christian Mara, Pejuang Seni Budaya Adat Dayak Berpulang
Guruh dan Kolaborasinya dengan Gipsy
Awal mengenal Guruh di dunia musik adalah karya-karya yang ngepop. Karya pertamanya yang kutahu adalah Kembalikan Baliku di album kompilasi Festival Lagu Populer Indonesia 1987. Lagu itu ada di urutan terakhir side B kaset. Kembalikan Baliku yang disuarakan Yopie Latul keluar sebagai pemenang dan mewakili Indonesia dalam kompetisi internasional yang dilangsungkan di Budokan, Tokyo.
Lalu, setelah nyemplung ke dunia radio, lebih banyak lagi karyanya yang kutemukan. Lagu-lagu yang dibawakan oleh nama-nama besar, seperti Chrisye, Keenan Nasution, dan Vina Panduwinata.
Suatu kali saat berselancar di YouTube, aku menemukan satu musik yang tak biasa. Tertarik, karena judulnya ada "Indonesia"-nya. Harusnya itu komposisi berjudul Indonesia Maharddhika. Pemilik akun menuliskannya salah. Ternyata itu akun milik orang luar yang sepertinya tertarik dengan lagu ini.
Karena terpesona, kucari tahu lebih detail tentang ini lagu. Ternyata itu karya Guruh yang berkolaborasi dengan grup Gipsy. Grup ini sendiri didirikan pada pertengahan 60-an dengan nama Sabda Nada. Mereka mengganti namanya dengan Gipsy pada 1969, dengan personel Chrisye, Keenan Nasution, Oding Nasution, Abadi Soesman, dan Roni Harahap. Mereka dikenal sebagai grup lokal yang membawakan lagu-lagu progressive rock ala Genesis, Emerson Lake and Palmer, Yes, dan Gentle Giant. Nah, sepulang dari studinya di Belanda, Guruh menggandeng Gipsy untuk mewujudkan ide liarnya.
Baca juga: LCLR Plus di Bandung dan Pesona Musik 70-an
Guruh ingin mengawinkan alat musik modern dengan alat musik etnik Bali, yakni gamelan dan gerong. Pada masa itu belum ada yang memiliki "keberanian" untuk menabrakkan dua musik yang masing-masing memiliki pakemnya sendiri. Begitu pun liriknya. Guruh menuliskan tentang tema sosial dan budaya dengan aneka metafor dan bergaya bahasa puitis.
Kolaborasi Guruh Gipsy ini beranggotakan Guruh Sukarno Putra (komposer), Chrisye (bass, vokal), Oding Nasution (gitar), Roni Harahap (piano), Abadi Soesman (keyboard, synthesizer), dan Kinan Nasution (drum, vokal). Lahirlah 6 komposisi: Indonesia Maharddhika, Chopin Larung, Barong Gundah, Janger 1897 Saka, Geger Gelgel, dan Smaradhana, diliris dalam album bertajuk Kesepakatan dalam Kepekatan. Mereka memproses album ini di studio milik Tri Angkasa yang pada masanya tercatat sebagai studio rekaman 16 track pertama, paling canggih di Indonesia. Sekadar catatan, studio The Beatles memulai rekaman 16 track ini untuk album Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band pada 1967. Proses rekamannya sendiri berlangsung mulai Juli 1975 hingga November 1976.
Album idealis ini--bisa diduga--tak laku di pasaran. Penikmat musik tanah air tampaknya lebih memilih lagu-lagu populer bertema cinta yang sedang marak pada masa itu. Di kemudian hari, barulah para kolektor musik memburu album ini. Konon, album yang disebut-sebut sebagai tonggak lahirnya progressive rock di Indonesia ini dihargai hingga jutaan rupiah.
Baca juga: Konser Sawung Jabo bersama Sirkus Barock di Bandung
Guruh dan Karya-Karyanya yang Melegenda
Karya-karya Guruh, meski dalam kemasan pop tetap menunjukkan ciri khas tersendiri. Selain musiknya yang kaya, liriknya juga tak biasa. Kalaupun bicara tentang cinta, bukanlah cinta yang cengeng melainkan cinta indah antarmanusia atau kecintaan terhadap alam raya.
Misalnya dalam lagunya yang berjudul Zamrud Katulistiwa, Guruh menceritakan tentang keindahan Indonesia. Lagu ini dibawakan pertama kali oleh Keenan Nasution pada 1978. Chrisye melagukannya kembali pada 1996.
Guruh memakai metafor melati untuk menggambarkan ibunya, Sang Ibu Negara, Fatmawati dalam Melati Suci. Lagu ini rilis bersama album Pergelaran Karya Cipta 3 pada 1980 lewat suara Tika Bisono. Bertahun kemudian Vina Panduwinata ikut menyanyikannya kembali dan tak kalah indahnya.
Lagu Sendiri sering dijadikan rujukan kalangan yang hidupnya menyendiri, malah ada yang tengah berada dalam keputuasaan karena urusan percintaan. Ada yang mengaitkan lirik lagu ini dengan kesendiriannya seorang Guruh. Senyatanya, Guruh menuliskan lirik sendiri bukan semata soal emosi, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Lagu ini lebih menggambarkan soal rasa, suasana, dan pengalaman eksistensial. Seperti yang banyak dipotret oleh para penulis sastra era masa lalu tentang kesenyapan malam yang menyimpan keteduhan dan keheningan. Kalaupun Guruh memasukkan pengalaman pribadi, ia telah berhasil nylimur melalui diksinya yang puitis.
Baca juga: Pesta Rakyat dalam Festival Rampak Kendang
Ada juga Guruh menulis tentang pergaulan anak muda. Ia menciptakan Galih & Ratna yang dimunculkan di film Gita Cinta dari SMA pada 1979 lewat suara Iromy Nursaid dari The Kid Brothers. Setahun kemudian lagu yang sama dibawakan oleh Chrisye untuk menjadi lagu tema film Puspa Indah Taman Hati yang merupakan kelanjutan Gita Cinta dari SMA.
Kisah anak muda lainnya ia tuangkan dalam Anak Jalanan yang terinspirasi dari novelnya Teguh Esha, Ali Topan Anak Jalanan. Ketika fenomena sosial anak-anak ibukota ini diangkat ke layar lebar, Guruh didapuk sebagai ilustrator musiknya.
Untuk musik, ada nuansa campur sari dan dangdut yang dilibatkan Guruh di lagu Candu Asmara. Lagu yang rilis pada 1998 ini dipopulerkan oleh Cici Paramida, yang kemudian dibawakan ulang oleh beberapa penyanyi lain, seperti Marchell dan Maizura.
Sedangkan pada lagu Lenggang Puspita, Guruh memasukkan nuansa etnik Betawi di bagian akhir lagu. Lenggang Puspita dibawakan oleh pentolan God Bless, Ahmad Albar pada 1986.
Guruh cukup banyak berkolaborasi dengan Chrisye. Tak terhitung pula karya-karyanya dibawakan oleh penyanyi lintas dekade, termasuk dengan Krisdayanti lewat lagunya Mahadaya Cinta. Dan aku yakin, pada tahun-tahun mendatang karya-karyanya masih akan terus dirilis ulang oleh generasi terbaru.
Baca juga: Just for You, Karya Lama Richard Cossiante yang Abadi
Ini baru bicara tentang lagu dan musik, belum kiprahnya di dunia seni yang lain. Pendek kata, karya-karya Guruh luar biasa dan telah menginspirasi banyak orang.
Selamat jalan, Mas Guruh Sukarno Putra. Selamat mulih ke pangkuan Semesta.




