Menjadi perempuan itu memang tak mudah. Bukan hanya soal tubuh biologisnya yang rumit, tapi juga soal konstruksi sosial yang melingkupinya. Bukan juga dia tak mampu melawan, yang sering kali terjadi malah konstruksi sosial itu telah diterima sebagai bagian dari takdirnya. Belum lagi jika dikaitkan dengan masalah kesehatan mental yang dialami perempuan dan menjadikan kondisinya makin rumit. Di sinilah--dalam pertimbanganku--dibutuhkan tekad bulat perempuan untuk berdaya dan mandiri, yang artinya memiliki kendali atas hidup, finansial, dan kebahagiaan sendiri. Perempuan yang tidak menyandarkan hidupnya kepada orang lain, baik keluarga maupun pasangan jika pada suatu saat ia memutuskan membangun keluarga sendiri. Karena dibutuhkan kewarasan tersendiri saat kita memilih untuk berpasangan dengan orang--yang notabene berbeda tersebut--agar tercapai kehidupan yang selaras.
Baca juga: Numerologi dan Astrogi untuk Meningkatkan Potensi Diri
Ada saja cerita yang ketemukan di media sosial tentang perempuan-perempuan yang ingin menggenggam erat hubungan dengan pasangan dengan cara melakukan kontrol yang berlebihan. Tentu saja kaum lelaki juga ada banyak yang melakukan hal serupa. Kali ini aku ingin menyoroti dari sosok perempuan, yang juga berangkat dari pengalaman sendiri.
Membangun Keberdayaan Diri
Memperkuat kapasitas diri. Kupikir itu adalah kata kunci bagi perempuan untuk berdaya. Kapasitas itu menyangkut pendidikan, finansial, keterampilan, dan mental. Jika memang memungkinkan, mengapa tidak meraih jenjang pendidikan setinggi mungkin? Perempuan dengan kemandirian finansial sudah pasti tak perlu menggantungkan diri kepada sosok "pendana" di luar dirinya. Keterampilan juga dibutuhkan untuk sanggup bertahan dalam berbagai persoalan kehidupan. Dan keteguhan mental dapat menjadi pondasi yang kokoh bagi perempuan dalam membuat pilihan yang tepat.
Finansial. Perempuan sebaiknya memiliki penghasilan sendiri. Jika memiliki privilege tak perlu bekerja untuk mendapatkan uang, misalnya mendapatkan dukungan finansial 100% dari keluarga atau suami, tetap perlu untuk mendapatkan penghasilan sendiri. Toh, penghasilan tak melulu harus melakukan pekerjaan formal. Di masa sekarang banyak pekerjaan bisa dilakukan secara remote. Atau mengelola hobi menjadi produk/jasa yang menghasilkan. Dalam hal ini perempuan juga dituntut untuk melek literasi keuangan.
Baca juga: Menuliskan Ulang Kisah Perempuan
Kecerdasan dan Wawasan Luas. Di luar soal pendidikan formal, kecerdasan dan wawasan merupakan dua hal yang perlu terus digali dan dikembangkan. Menyimak informasi-informasi terbaru, membuat analisis kritis, melatih kemampuan mengemukakan pendapat; menyediakan diri untuk berbagi juga ikut memberikan andil dalam mengasah wawasan. Tantang diri untuk mempelajari hal-hal baru; hal-hal yang selama ini dihindari karena merasa tak menguasai, saatnya untuk menerobos batasan yang diciptakan sendiri itu. Bergabung dengan komunitas juga bisa menjadi alternatif dalam mengasah wawasan. Atau cukup dengan membaca tulisan ringan, jika tertarik dengan dunia pendidikan bisa kunjungi Home Education Centre.
Ketahanan Mental dan Kemandirian Emosional. Membangun keyakinan bahwa kebahagiaan datang dari dalam diri sendiri, bukan dari atau pemberian orang lain. Melatih emosi sebagai bagian dari diri, yang perlu diterima dan diselaraskan. Menyadari bahwa kita hanya bertanggung jawab terhadap hal-hal yang bisa kita kontrol. Ketika penerimaan diri sudah dilakukan dengan baik, kemampuan untuk mencintai diri sendiri lebih berkembang, kepedulian terhadap sesama akan lebih terasah. Apa-apa yang terjadi di luar diri tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan. Jika membutuhkan penyikapan, respons pun disampaikan secara jernih.
Ketahanan Fisik. Bukan hanya mental, fisik pun perlu dilatih. Sejumlah hormon yang memicu kebahagiaan akan terlepas saat berolahraga. Seperti hormon adrenalin yang berperan meningkatkan aliran darah ke otot dan otak; inilah yang menjadikan tubuh terasa lebih segar, bertenaga, dan sigap menghadapi tantangan setelah tuntas berolah raga. Hormon endorfin, serotonin, dan dopamin berperan membantu menstabilkan suasana hati dan meningkatkan perasaan positif.
Dengan meningkatkan kapasitas diri, menata ulang pemahaman terhadap diri sendiri, membangun ketahanan fisik dan mental, serta beradptasi dengan segala perubahan di sekitar merupakan faktor penting dalam menyikapi hubungan dengan orang lain, termasuk hubungan dengan pasangan. Dengan mencintai diri sendiri, kita akan menempatkan pasangan sebagai mitra untuk berbagi hidup, berbagi rencana dan cita-cita, serta berbagi tanggung jawab.
Baca juga: Mengapa Perselingkuhan Terjadi?
Mari Berefleksi dan Membuat Komitmen Berkesadaran
Jadi, sebetulnya, apa yang terjadi saat seorang perempuan melulu berpikir tentang perempuan lain atau lelakinya akan tergoda perempuan lain?
Dari pengalamanku, hal ini terpusat di poin ketahanan mental dan kemandirian emosional. Aku pernah ada di masa ini; masa terjebak dalam trauma masa kecil dan perasaan diri tidak berharga. Jadilah insecure.
Nah, perempuan-perempuan yang melulu menganggap diri tidak worth it dan insecure itu sedang membangun energi "aku replaceable".
Makin kuat ia memikirkan tentang hal tersebut, makin besar energi itu terbentuk. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah membatalkan anggapan yang sangat mungkin menjadi beliefe itu dengan membangun energi yang baru. Katakan:
- aku tidak bersaing dengan perempuan lain
- aku tidak membandingkan diriku dengan mantannya
- aku tidak membatasi pergaulannya dengan perempuan lain
- dst.
Baca juga: Mengapa Kita Mengalami Pola Hidup yang Terus Berulang?
Kamu bisa tambahkan hal-hal yang sebelumnya menjadi kebiasaanmu, seperti sibuk mengecek HP pasangan, mengintip akun medsos pasangan bahkan tak jarang menghubungi perempuan-perempuan lain yang terlihat akrab dengan pasangan di medsos, mencari tahu masa lalu pasangan ke orang lain. Tambahkan sebanyak mungkin hal-hal yang berptensi menjadi racun dalam hubungan itu, dan berkomitmenlah untuk tidak melakukannya lagi.
Bagaimana jika lelakimu memang betul-betul tergoda perempuan lain?
Pertama, terima fakta itu. Sakit, bikin sesak? Sangat mungkin. Bahkan jika itu belum menjadi fakta, baru sebatas rumor atau gosip, terima saja.
Cari waktu, bicarakan baik-baik dengan pasangan. Jika jawabannya adala "iya", ya terima juga. Terima kenyataan bahwa lelakimu telah memilih perempuan lain.
Ingat, kita tidak bisa mengontrol hidup bahkan pikiran orang lain. Kita hanya bisa mengontrol apa yang terkait langsung dengan kita, hal-hal yang memang bisa kita kontrol.
Jadi, apa yang perlu dilakukan saat lelakimu mengakui sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain? Lepaskan. Ini pasti tidak mudah, terlebih jika sudah berkeluarga dan memiliki keturunan. Tapi, ingat, dia sudah mengkhianatimu. Hubungan itu sudah tidak layak dipertahankan. Jadi, sekali lagi: lepaskan. Itulah makanya kenapa perempuan perlu berdaya secara finansial. Mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Baca juga: Mengenal Sabotase Diri dan Mekanisme Kopig
Kapan hari aku membaca catatan soal perempuan yang mau menerima saja sebagai istri, aku lupa, kedua apa ketiga. Intinya, ia mempertahankan posisinya sebagai istri pertama atas alasan kebutuhan materi untuk diri dan anak-anaknya. Toh dia tidak membutuhkan seks lagi. Ada yang tertarik untuk mengambil pilihan serupa? Ya silakan juga, bebas saja. Kalau buatku sih, enggak banget.
Menurutku, dengan segala kehendak bebas yang dimilikinya, perempuan bisa membuat pilihan merdeka untuk keluar dari hubungan yang tak menempatkan dirinya secara layak seperti awal mula kesepakatan. Lepaskan, tinggalkan.
- Tak perlu memohon bertahan.
- Tak perlu berkompetisi dengan si perempuan lain.
- Tak perlu membalas dendam
- Tak perlu menahan pasangan yang ingin pergi.
- Jangan takut sendiri.
Dan, hal terpentingnya adalah kesadaran bahwa kamu tidak kehilangan nilaimu karena seseorang meninggalkanmu. Kamu adalah orang yang bernilai dengan pilihan-pilihanmu. Termasuk ketika lelakimu membuat pilihan yang berbeda.
Namun, ini semua proses. Tak perlu berkecil hati jika belum bisa melakukan semuanya serta-merta. Misalnya, "aku belum bisa, nih, masih suka kepo dia berkomunikasi dengan siapa saja," atau "aku masih terus membandingkan euy, diri sendiri dengan mantan-mantannya dia". Ya, nggak soal selagi bersedia untuk berproses. Hanya saja, tetap dibutuhkan prasyarat yakni "kita mau menerima"; menerima bahwa yang sudah dilakukan selama ini tidak tepat. Karena akan berbeda cerita jika kitanya sudah langsung defensif: "aku masih ingin membalas dendam!"
Baca juga: Tetap Bahagia dan Giat Berkarya saat Menjalani Hidup Sendiri
Daaan, mengingatkan saja ya, gaeees, selagi kalian belum mampu memulihkan diri sendiri, please jangan buru-buru berpikir tentang menikah apalagi memiliki anak. Jangan biarkan pasangan apalagi anak terdampak. Bagi yang sudah telanjur menikah dan bersiap memiliki anak, semoga perjalanan pemulihan kalian berjalan dengan baik. Barangkali membuat jurnal pribadi atau menulis artikel di media atau blog pribadi, seperti pembelajaran pada anak-anak di sekolah blended learning. Menulis akan cukup membantu mengeluarkan ide, dan memanggil ulang ingatan untuk disembuhkan.
Selamat berproses. Namaste.





