The Odyssey, Terjemahan Nolan atas Karya Lama Homer

Tuntas menyaksikan Odyssey, ada kegembiraan tersendiri buatku. Akhirnya berhasil nonton ke bioskop setelah sekian lama gagal karena berbagai hal. Kegembiraan yang lain adalah kepuasan mendapatkan hiburan sekaligus tontonan yang keren. "Aku merasa perlu untuk menonton ulang film ini," kataku kepada teman-teman nontonku hari itu. Sebagus itukah? Buatku, iya. Jika memungkinkan, aku akan menonton lagi film besutan Christopher Nolan ini.


Baca juga: The Most Prcius of Cargoes, Kisah Muram Penyintas Holocaust

Saat datang ajakan dari kawan-kawan untuk nonton Odyssey, aku langsung mengiyakan. Tanpa merasa perlu mencari tahu ini film tentang apa. Hanya lihat posternya dengan Matt Damon muncul sebagai sosok utama, sudah cukuplah buatku


Sinopsis

Film diawali dengan pemandangan pantai, tampak Odysseus (Matt Damon) tengah duduk berdua dengan perempuan--yang entah di menit keberapa namanya baru dimunculkan, itu un hanya sekali--bernama Calypso (Charlize Theron). Odysseus terlihat linglung, terbawa halusinasi akibat pengaruh bunga teratai yang diberikan Calypso. Halusinasi yang membawa ingatannya berkelana ke masa lalu. 

Salah satu ingatan yang muncul adalah aktivitas bersama di pinggir pantai. Dari sini alur cerita dibuat maju-mundur. Awalnya ini cukup membingungkan buatku. Sosok-sosok yang lekat dengan sang Raja Ithaka muncul dalam penampakan yang berbeda usia. Di beberapa scene-nya tampak sosok muda yang adalah anak Odysseus, Telemachus (Tom Holland). Beberapa poin di scene ini menjadi kunci jawaban dari pertanyaan Telemachus tentang ayahnya.

Satu tahun lamanya Odysseus memimpin pasukan dalam Perang Troya. Dengan menggunakan siasat Kuda Troya, ia memenangkan pertempuran. Namun, ternyata tantangannya bukan pada perang, melainkan pada perjalanan pulang. 

Baca juga: The Fighter, Film tentang Keluarga dan Pengorbanan

Petualangan seru dihadapi Odysseus dan awaknya saat berhadapan dengan aneka makhluk mitologi yang legendaris. Diawali dengan perjumpaan dengan Polyphemus, raksasa bermata satu putra Poseidon. Odysseus perlu mencari cara untuk dapat keluar dari gua tempat bernaung sang raksasa. Korban berjatuhan. Meski hanya memiliki satu mata, Polyphemus dapat menangkap satu per satu anak buah Odysseus dan mengunyahnya. Ketika anak buah tersisa berhasil keluar dari gua, dengan kegeramannya Odysseus memanah mata si raksasa. Polyphemus kemudian menyumpahinya akan dapat celaka. Sumpah dari anak Dewa Poseidon yang dianggap bertuah.

Perjumpaan berikutnya adalah dengan Laestrygonians, bangsa raksasa kanibal dengan penampilan yang cukup mengejutkan. Seolah kita dibawa ke abad 20 sekian. Ukuran tubuh besar, dilengkapi dengan baju besi, dan gerakan tubuh yang cepat dan cermat. Mereka dikenal buas dan pemakan manusia. Pasukan bertumbangan.

Dalam kondisi lelah dan kelaparan, mereka tiba di pulau yang dihuni penyihir. Tak tanggung-tanggung yang dilakukan sang penyihir perempuan itu adalah mengubah wujud anak buah Odysseus menjadi babi. Sang raja yang ditinggalkan oleh anak buahnya karena pertengkaran akhirnya justru bisa menolong mereka. Circe (Samantha Morton), sang penyihir melepaskan mereka kembali dalam bentuk semula dan memberi beberapa pesan kepada Odysseus, salah satunya adalah menemui orang-orang yang sudah mati.

Pertemuan itu makin menegaskan ramalan masa depan Odysseus yang disebutkan bakal kehilangan semua anak buahnya, akibat pertengkaran dan ketidakpatuhan pada peringatan.

Baca juga: Gundala, Harapan Baru Film Laga Indonesia

Tantangan pertama adalah saat berhadapan dengan Siren. Odysseus meminta anak buahnya untuk menyumpal kuping mereka dengan penutup. Sedangkan dirinya sendiri minta diikatkan di tiang untuk mengetahui dampak dari mendengarkan nyanyian Siren, makhluk berwujud perempuan dengan separuh badannya adalah burung. Nyanyian mereka dikenal memikat para pelaut dan menyesatkan mereka.

Terlepas dari Siren, mereka dihadang monster laut ganas berkepala enam. Makhluk ini tinggal di tebing sempit, setelah mereka berhasil membebaskan diri dari ancaman pusaran ganas. Jumlah anak buah Odyseus makin menyusut. Terakhir, badai dahsyat berhasil memorakporandakan kapal mereka. Itulah awal perjumpaan Odyseus berjumpa Calypso, nimfa abadi yang namanya hanya disebut sekali itu. 

Ah, ya, pada setiap menghadapi pergolakan batin, Odysseus selalu dikunjungi Dewi Athena (Zendaya)yang memberinya semangat dan saran. 


Baca juga: Honest Thief, Saat Aktor Gaek Asik Beraksi


Odyssey, Kisah Pergulatan Batin Sang Raja

Kisah Raja Ithaka yang disutradarai Christopher Nolan ini diadaptasi dari salah satu kisah paling tua di dunia, The Odyssey dari Homer. Menyimak film dari awal--meski sedikit terlambat--aku terpaku pada nuansa yang tertangkap mataku: Trilogi Batman besutan Nolan. Yup, ada vibes yang agak mirip.

Hal yang sangat mudah tertangkap mata adalah teknologi yang menampilkan gambar-gambar dramatis, adegan demi adegan yang terasa begitu nyata. Rupanya ada teknologi kamera yang baru dikembangkan oleh IMAX. Dan Nolan merekam seluruh kisah Odysseu ini dengan menggunakan kamera IMAX. Kamera edisi baru ini disebutkan memiliki fitur senyap sehingga dapat mengambil gambar jarak dekat untuk adengan-adegan emosional tanpa terganggu bising seperti yang dimunculkan kamera generasi sebelumnya. 

Petualangan seru dari Odysseus ini buatku sendiri memuaskan. Penuturannya dan sinematografinya. Meski sesungguhnya, inti dari kisah ini bukan semata cerita petualangan melainkan perihal pergulatan batin seorang pemimpin. Dalam kesuksesan sering kali pemimpin dihadapkan pada kepongahan yang membuat mereka tidak berhati-hati. Di sisi lain juga, segala macam pengalaman hidup itu pada akhirnya mengerucut pada kebutuhan yang sesungguhnya dalam hidup: kedamaian.

Mungkin yang sedikit mengganggu--ah, sebetulnya bukan mengganggu, sih--adalah sedikitnya sentuhan emosional. Bukan karena tak tergarap dengan baik, melainkan karena sebagai penonton jadinya lebih terfokuskan pada hal teknis yang memang keren. Sebetulnya banyak adegan yang menyentuh, dan semua pelakon memainkan perannya dengan sangat baik. Cuma ya, itu tadi, benaknya lebih terseret untuk takjub terhadap pergerakan adegan lewat gambar-gambar bergerak yang memang memukau.

Baca juga: The Swordsman, Adu Akting Joe Taslim dan Jang Hyuk

Odyssey mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus film. Pasca penayangan perdana di Empire Leicester Square, London, pada 6 Juli 2026, berbagai komentar bermunculan dari Rotten Tomatoes, Variety, Screenrant, Looper, Deadline, dan lain-lain, yang hampir semuanya memberikan skor tinggi terhadap film ini. Yang tidak setuju? Tentu ada saja. Mengingat Odyssey adalah epos ribuan tahun lalu yang telah bersemayam di benak banyak pembacanya dengan berbagai imajinasi mereka.

Kamu belum nonton? Buruan nonton, gih, sebelum turun layar. 





Trilogi Siwa, Bukan Sekadar Kisah Kepahlawanan

Sosok pendatang itu memunculkan kegaduhan di tengah lingkungan yang baru ia datangi. Terjaga dari istirahat pasca pengobatan karena sakitnya, muncul keanehan di lehernya. Warna nila yang mencolok. Alih-alih mempertanyakan kondisi tersebut, para penyelenggara negeri itu malah unjuk kepatuhan dengan memberikan sujud sembah. Rakyat telah lama menunggu penggenapan ramalan kuno tentang seseorang berleher nila yang akan menyelamatkan mereka dari malapetaka. Demikianlah, Siwa, sosok yang menjadi pemimpin pengungsi barbar dari Himalaya itu sontak berubah menjadi orang yang berbeda.  




Trilogi Siwa ini sudah cukup lama bersemayam di antara buku-buku lain di rak. Awalnya karena adanya tawaran buku baru harga diskon. Seperti biasa, buku masih sakti untuk menjebakkan diri dalam belanja emosional. Bukunya tampak menarik, sambil--seperti biasa pula--tidak mencari tahu perihal itu buku. Ketika paket buku tiba, barulah menyadari bahwa itu adalah buku ketiga dari trilogi. Tak mungkin, to, langsung baca buku ketiga?! Maka berburulah buku pertama dan keduanya. Rada alot dapatnya, dan begitu dapat, kualitasnya tak cukup baik. Banyak coretan dari pemilik pertamanya. Untunglah ceritanya menarik, jadi kekurangan itu bisa diabaikan.
  
Sinopsis

Cerita diawali dengan pengenalan sosok bernama Siwa, pemimpin Suku Guna. Suku ini memiliki seteru abadi, sesama suku yang hidup di kaki Himalaya, yakni Suku Pakrati. Siwa tengah dirundung bimbang setelah mendapat tawaran dari orang asing dari Meluha. Secara kebetulan, sebuah serangan tak terduga datang dari suku Prakati. Beruntunglah mereka, kehadiran orang asing Meluha yang dipimpin oleh Nandi itu memberikan bantuan yang memberikan kemenangan besar pada pihak Guna. Kemenangan itu seolah memberi pertanda bagi kegalauan Siwa. Ia pun memutuskan untuk menerima ajakan Nandi bergabung dengan wilayah Meluha. 

Keputusan Siwa sebetulnya semacam pertaruhan. Ia mengingat betul apa yang disampaikan pamannya, "Takdirmu jauh lebih besar dari pegunungan raksasa ini". Sosok ini terus terpaut dalam kisah Siwa di trilogi ini.


Demikianlah, Siwa bersama rakyatnya akhirnya tiba di Meluha. Negeri itu membuatnya takjub. Segala sesuatunya tertata dengan apik. Bukan hanya kawasannya dan bangunan dengan lingkungan yang melingkupinya, namun juga aturan-aturan yang mereka buat. Peradaban masyarakatnya telah terbangun dengan baik. Di sinilah takdir mulai terbuka sedikit demi sedikit. Diawali dengan keyakinan dari tuang rumah bahwa Siwa adalah Sang Nilakantha, sosok yang diyakini bakal menyelamatkan kerajaan dari kehancuran.

Buku pertama trilogi ini mengisahkan Siwa yang menjadi bagian dari Kerajaan Meluha. Sosoknya diangkat tinggi oleh sang raja. Bukan kebetulan jika kemudian Siwa berjumpa dengan anak perempuan raja Meluha, Sati. Takdir menetapkan demikian. Sati menjadi separuh jiwa Siwa yang membantunya merumuskan dan merencanakan banyak hal untuk masa depan. Bukan hanya bagi rakyat Meluha, melainkan juga untuk masyarakat yang lebih luas. 

Memasuki buku kedua, Rahasia Kaum Naga, kita kembali diajak mengikuti perjalanan Siwa memenuhi takdirnya sebagai Sang Mahadewa. Di sini karakter Siwa muncul tak lagi sebatas sosok liar yang perkasa yang membawa kemenangan dalam peperangan seperti yang diceritakan di buku pertama. Ia menyandang tanggung jawab besar sebagai Nilakantha Sang Penyelamat. Perangnya bukan hanya perang fisik melainkan juga batin. Peperangan melawan kebatilan. Anehnya, semakin ia berusaha mencari kebenaran, yang ditemuinya adalah fakta bahwa baik dan jahat itu relatif, bergantung pada sudut pandang. 

Seperti yang menjadi judul novel kedua ini, Siwa dihadapkan pada kebenaran tentang kaum Naga, kaum yang selama ini ia dan semua orang anggap jahat. Kaum yang harus disingkirkan. Kaum yang tak layak muncul di tengah peradaban. Upaya pencarian makna di balik semua anggapan tentang kejahatan kaum Naga ini membawa Siwa ke wilayah-wilayah tak terjangkau dengan perjalanan yang tak mudah. 

Secara terpisah, sang istri, Sati juga menemukan pengalamannya sendiri. Fakta bahwa ia punya ikatan yan kuat dengan kaum Naga. Fakta yang kelak membuka kedok busuk sang raja.


Dalam petualangannya selama terpisah dari sang suami, Sati membuktikan diri sebagai perempuan yang tak hanya memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni, tapi juga menunjukkan diri sebagai pemimpin yang bijaksana serta tak memiliki rasa gentar. Meski di balik itu ia tetaplah seorang perempuan yang penuh welas asih.  

Buku kedua ini juga merupakan ajang pertemuan kakak beradik, anak Sati dari suami pertamanya dan anak keduanya dari Siwa.

Benang merah dari berbagai pertanyaan di benak masing-masing tokoh akhirnya terjawab di buku ketiga, Sumpah Bayuputra. Diawali dengan upaya Siwa mencari sumber kejahatan yang membawanya ke Pancawati, negerinya kaum Naga. Pencarian itu menemukan fakta-fakta baru yang makin mengerucutkan arah sosok yang ia cari. Hingga saat semua terjawab, terlihatlah siapa kawan, siapa lawan. Namun kebenaran tidaklah hitam putih. Ada yang memilih memisahkan diri, bukan karena tidak mendukung kebenaran dan memerangi kejahatan, melainkan karena adanya sumpah setia terhadap negeri yang melahirkan. 

Yang kental tentu saja peristiwa peperangannya. Di buku ketiga ini, Siwa dan Sati mengumpulkan pasukan untuk melancarkan perang suci. Dimulai dengan perang-perang parsial di beberapa kawasan, hingga terjadinya perang besar yang sebenarnya tak diinginkan. Sati dijebak, dan hari itu menjadi hari kematiannya.

Terluka oleh kematian istrinya, Siwa melanggar janjinya untuk tidak menggunakan senjata pemusnah. Senjata inilah mengakhiri perang berkepanjangan dan membumihanguskan pusat Kerajaan Meluha. Pemusnahan ini menjadi simbol penghancuran kejahatan di muka bumi, meski di dalamnya sebetulnya ada banyak orang yang sebetulnya tak perlu mati sia-sia. Tetap saja, demikianlah yang namanya perang, bukan?



Siwa, Bukan Sekadar Novel Kepahlawanan

Yup, ini bukan novel kepahlawanan apalagi yang sekadar berjualan tema kejahatan versus kebaikan. Ada banyak hal-hal filosofis yang menarik untuk disimak.

Misalnya bahasan tentang Wangsa Surya yang mewakili Meluha dan Wangsa Chandra yang mewakili Ayodhya. Wangsa Surya selalu menganggap Wangsa Chandra sebagai masyarakat yang tak tahu aturan. Diceritakan, sesuai namanya, Wangsa Surya mewakili laki-laki dan Chandra mewakili perempuan. Atau barangkali yang lebih tepatnya adalah maskulinitas dan femininitas, yang dari keduanya ada perbedaan cara pandang terhadap tatanan kehidupan. 

Dari sudut pandang maskulin, cara hidup yang tepat adalah "hidup berdasarkan aturan." Aturan harus dipatuhi secara utuh, dan tidak bisa diubah begitu saja. Tidak disediakan ruang untuk meragu. Sementara itu, dari sudut pandang feminin, cara hidup yang menarik adalah "hidup berdasarkan kemungkinan-kemungkinan." Kehidupan tidak bersifat mutlak. Konsekuensinya, aturan yang berlaku realtif lunak. Masyarakat bisa menerjemahkan aturan secara berbeda dari waktu ke waktu. Femininitas menempatkan perbedaan sebagai hal yang lumrah untuk diterima. Nah, tidak ada yang benar atau salah dari kedua sudut pandang ini. Karena keduanya bisa berjalan beriringan, bahkan saling melengkapi sehingga kehidupan dapat berjalan selaras sekakigus dinamis. 


Beberapa kalimat buatku menarik, misalnya tentang karma. 

Kau tidak hidup dengan menjalani akibat dari karma orang lain. Kau menjalani hidup dengan akibat-akibat dari karmamu sendiri.

Selama ini orang sering tidak tepat dalam meletakkan istilah karma. Seolah karma adalah hukuman atas apa yang kita lakukan terhadap orang lain atau sesuatu di luar diri kita. Sering kan ada yang bilang, "Karma datang tak menunggu lama; langsung dibayar lunas."

Nah, quote soal karma di buku ini mengingatkan bahwa karma adalah konsekuensi dari tindakan kita, yang harus kita bayarkan di kehidupan berikutnya. Maka, dengan pembelajaran lewat karma ini kita diingatkan untuk berusaha melakukan semata kebaikan dan ketulusan agar tak perlu lelah mengulangi kehidupan dengan masalah-masalah yang sama. Lebih-kurang demikian konsepnya. 

Kebaikan dan kejahatan bagaikan dua sisi  yang berbeda dari sekeping mata uang.

Saat berusaha menemukan kebaikan, sebetulnya ada kejahatan yang menyertainya. Karena demikianlah kehidupan menurut Hindhuisme yang coba dituangkan Amish melalui novelnya. Bahwa dalam kehidupan kita tak bisa hanya memandang satu sisi. Ada sisi lain yang perlu untuk kita pertimbangkan. Itulah kenapa kita dituntut untuk mengambil keputusan secara bijak. 


Pada awal membaca novel pertama, aku rada pesimis. Tak cukup akrab dengan bahasannya, dan terasa lamban pergerakannya. Agak lama ditinggalkan. Setelah coba dibaca ulang dan mencoba bersabar, melewati 50 halaman barulah terasa nikmatnya. Di situ aku mulai menyadari betapa selama ini aku tak cukup memahami Hindhuisme, termasuk aneka mitologi yang menyertai. Paling-paling yang beririsan dengan dunia pewayangan yang telah jauh-jauh hari diadaptasi di tanah air dan menjadi kisah-kisah yang diceritakan para dalang. 

Selama ini, dalam bayanganku dewa itu muncul sebagai sosok yang sudah dilengkapi dengan berbagai kemampuan lengkap dengan segala kuasa yang bisa digunakan dalam kapasitasnya sebagai dewa. Aku tak menduga sama sekali jika Siwa yang menjadi sosok utama novel ini adalah Dewa Siwa yang sedikit kukenal dalam pelajaran sekolah di masa SD. Setelah sekian halaman baru menyadari, "Oh, ini tuh maksudnya muasal Siwa sebelum menjadi dewa, ya?"


Tulisan Amish dalam Siwa ini cukup menyenangkan untuk dibaca. Penceritaannya mengalir. Beberapa bagian merupakan kilas balik ke masa lalu, namun tak begitu drastis lompatannya sehingga tetap mudah diikuti. Pastinya ini berkat penerjemahan yang apik dari para penerjemahnya. 

Banyak dialog menarik yang ditampilkan dalam banyak bab; di dalamnya tersirat banyak pesan moral. Untunglah pesan-pesan moral itu menyatu dengan cerita, jadi tak terkesan menggurui pembaca. Yang menarik juga tentunya adalah penggambaran latar belakang berbagai peristiwa, alam yang penuh dengan keindahan sekaligus tantangan. Dan entah kenapa, penggambaran kawasan di lembah Sungai Indus dengan segala kebudayaan dan adat istiadatnya pada berada lalu ini mengantarkan imajinaku ke wilayah pedalaman Kalimantan yang memiliki banyak perairan. 

Yang buatku agak lemah adalah sejumlah bagiannya yang terasa lambat. Ada beberapa titik yang kurasa penggambarannya terlalu detail dan membuatku agak bosan. Namun, tak banyak. Secara keseluruhan ketiga novel ini seru diikuti.  

Trilogi Siwa ini merupakan karya penulis India, Amish Tripathi. Sebelum nyemplung di dunia penulisan, Amish adalah seorang bankir yang cukup berhasil. Ketika karya pertamanya, The Immortals of Meluha--yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Kesatria Wangsa Surya--menangguk sukses besar, ia memutuskan melepaskan karirnya sebagai bankir yang telah ditekuninya selama empat belas tahun. Ia menyeriusi dunia penulisan dengan fokus tema yang digandrunginya, yakni sejarah, mitologi, dan filsafat. Menurut catatan di platform publikasinya, Amish telah meluncurkan 13 buku utama, baik fiksi maupun nonfiksi. Buku-buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan sukses terjual jutaan kopi di seluruh dunia. Trilogi Siwa tercatat sebagai seri buku terlaris dalam sejarah penerbitan India.


Judul Asli: The Immortals of Meluha
Judul Indonesia: Siwa (Kesatria Wangsa Surya)
Penulis: Amish Tripathi
Penerjemah: Desak Nyoman Pusparini
Penerbit: Javanica
Halaman: 427 halaman

Judul Asli: The Secret of the Nagas
Judul Indonesia: Rahasia Kaum Naga 
Penulis: Amish Tripathi
Penerjemah: Briliantina L. Hidayat
Penerbit: Javanica
Halaman: 410 halaman

Judul Asli: The Oath of the Vayuputras
Judul Indonesia: Sumpah Bayuputra
Penulis: Amish Tripathi
Penerjemah: Briliantina L. Hidayat
Penerbit: Javanica
Halaman: 610 halaman


Slow Living, Pilihan Hidup yang Lebih Berkesadaran

Belakangan hari pilihan gaya hidup slow living banyak dijadikan bahasan. Tak kurang juga banyaknya komunitas yang mengambil tema ini. Sebagian orang mungkin memang secara alamiah telah menjalani hidup dalam irama yang lambat; sebagian yang lain bisa jadi menemukan bahasan soal slow living ketika sedang lelah-lelahnya menjalani hidup yang berkejaran; sebagian yang lain lagi kemungkinan sekadar FOMO saja. Mungkin loh, yaaa. Kamu, yang barangkali sejauh ini belum terpikir, bisa menimbang alternatif ini.



Baca juga: Permakultur dan Kunjungan ke Igirmranak

Aku sendiri sejak kecil terlatih menjalani frugal living. Baik secara alami maupun terencana. Secara alami karena kami tumbuh dalam lingkungan yang pas-pasan secara finansial. Secara terencana, setelah belajar lebih banyak hal terkait manajemen keuangan dan kebijaksanaan hidup secukupnya. Meski saat ini belum sepenuhnya bisa menjalani slow living, paling tidak setengah bagian prosesnya sudah terlakoni. Yang menjadikan slow living sebagai impian masa depan, santai saja. Yuk, jalani pelan-pelan.


Apa Itu Slow Living?

Aku lahir dan dibesarkan di desa. Sebagian besar aktivitas warga nyaris seragam. Bagi yang pegawai, pagi-pagi berangkat kerja, sore pulang. Begitu pula para pedagang pasar. Yang agak berbeda pedagang yang memiliki toko, jam bukanya lebih lama. Para petani pun demikian, tak jauh beda. Selebihnya mereka akan menghabiskan waktunya di rumah bersama keluarga. Sekali waktu kumpul dengan tetangga, misalnya bapak-bapak meronda, atau ibu-ibu arisan. Tak banyak pilihan aktivitas lainnya. 

Ketika perjalanan membawaku meninggalkan kampung halaman, ke Bandung--yang sebetulnya relatif tidak terlalu kencang ritmenya, setiap kali pulang kampung terasa betul kesenjangannya. Waktu seolah tidak bergerak. Slow motion. Nah, apakah kehidupan model begitu disebut slow living? Salah satu bagiannya mungkin iya, tapi hal mendasarnya mungkin berbeda.  

Slow living mengedepankan tentang kesadaran; menjalani hidup dalam ritme tenang, penuh makna, seimbang, sederhana, memilih kualitas daripada kuantitas dan semuanya dijalani dengan sepenuh kesadaran. Bukan hidup yang melambat karena tidak ada pilihan, apalagi malas. 

Baca juga: Olah Napas untuk Mental yang Sehat dan Hidup Lebih Berkesadaran

Sebetulnya kalau dilihat dari sejarahnya, konsep slow living ini bukanlah hal baru. Awalnya adalah orang-orang Italia yang bersekutu membuat Gerakan Slow Food di Italia pada dekade 80-an, sebagai bentuk protes dibukanya gerai fast food di Roma. Pelopornya, Carlo Petrini, menggarisbawahi soal pentingnya makanan berkualitas serta upaya bersama mempertahankan tradisi lokal serta mendukung kesejahteraan petani. Gerakan ini lalu berkembang menjadi konsep slow living yang lebih luas dengan menyentuh berbagai aspek dalam kehidupan. 

Jumlah pengikut konsep slow living mengalami peningkatan pesat setelah Carl Honoré menerbitkan buku In Praise of Slowness yang intinya mengajak orang untuk melambat; menjalani hidup dengan ritme yang lebih lambat. Tren slow living dianggap menjadi solusi bagi siapa pun yang mengalami stres atau ingin keluar dari rutinitas yang serba tergesa. 

Baca juga: Jeda dan Meditasi Bantu Redakan Pikiran yang Riuh


Mengapa Pilih Slow Living dan Bagaimana Memulainya?

Di salah satu grup media sosial bertema slow living yang kuikuti, bertebaran postingan orang yang berkisah tentang memulai slow living di desa, meninggalkan pekerjaan di kota yang sudah penuh sesak. Berikutnya muncul pertanyaan-pertanyaan: Apakah setelah pensiun orang baru bisa slow living? Apakah kalau sudah berhasil punya passive income baru bisa menjalani slow living? Apakah untuk slow living harus tinggal di desa? Apakah untuk menjalani slow living harus berusia 40 tahun ke atas? Apakah slow living artinya harus bertanam dan beternak? Dan aneka rupa pertanyaan lainnya. 

Jika mengacu pada penjelasan secara umum apa itu slow living, tentunya sudah langsung terjawab. Jika slow living membutuhkan prasyarat seperti pertanyaan-pertanyaan di atas, sebagian besar orang bisa jadi tak akan pernah punya kesempatan untuk menjalani slow living.

Karena secara hakikat slow living adalah tentang menjalani hidup dalam ritme tenang, penuh makna, seimbang, dan sederhana dengan sepenuh kesadaran, konsep ini bisa dijalankan oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. 

Baca juga: Sembuhkan Penyakit Metabolik dengan Puasa dan Diet Keto

Berikut ini langkah yang bisa kita lakukan untuk menjalankan slow living. Bisa dimulai dengan langkah kecil berupa kebiasaan dalam keseharian.

1. Mengubah kebiasaan makan. Kalau sebelumnya makan dalam keadaan tergesa, kini lambatkan ritmenya dengan cara menikmati setiap suapan. Sembari mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membuat makanan tersebut bia tersaji di depan kita dan bisa dinikmati. Sembari dibarengi permohonan kepada Semesta, Tuhan, Sang Hyang Widi, apa pun kalian menyebut Sang Ilahi untuk mencukupkan rezeki bagi semua orang terutama mereka yang sedang mengalami kesusahan.

2. Tinggalkan kebiasaan multitasking. Salah satu hal yang kusadari pada waktu-waktu terakhir adalah kesulitas fokus, barangkali itu semacam brain fog. Hal ini terjadi karena selama ini terlalu banyak melakukan beberapa pekerjaan sekaligus secara bersamaan atau multitasking. Pada masanya itu membanggakan. Tapi belakangan baru kusadari dampaknya. So, tinggalkan multitasking, mulailah mengerjakan sesuatu, satu per satu hingga tuntas, baru berpindah mengerjakan hal lain.

3. Batasi interaksi dengan media sosial. Seberapa sering kamu menyadari bahwa media sosial begitu menyita waktu dan perhatianmu? Sekali bercokol di depan HP, berapa banyak akhirnya waktu yang kamu habiskan di sana, menyelam ke berbagai medsos? Yang tadinya hanya sekadar mengecek, yang terjadi malah meninggalkan aktivitas sebelumnya dan lupa dengan tujuan semula. Pelan-pelan, beri diri sendiri jatah membuka media sosial setiap harinya.  

Baca juga: Kesehatan Mental dalam Skala Hawkins

4. Sediakan waktu untuk diri sendiri. Yang dalam bahasa gaulnya "me time" itu memang sungguh-sungguh diperlukan dan ada manfaatnya, lo. Jika diperlukan ingat-ingat ulang apa saja hobi yang tak pernah dijalankan lagi. Membaca, berkebun, nonton, menggambar atau melukis, dan aktivitas hobi lainnya yang menyenangkan dapat membantu melepaskan stres. 

5. Praktikkan teknik hidup berkesadaran. Pada dasarnya hidup berkesadaran adalah hidup "di saat ini". Praktiknya adalah menjalankan segala sesuatu dengan kesadaran penuh; kesadaran bahwa kita hidup di saat sekarang, bukan masa lalu yang menyakitkan dan bukan masa depan yang penuh ketidakpastian. Dengan begitu hari-hari bisa dilalui dengan gembira, tanpa kecemasan dan emosi negatif lainnya yang secara langsung dan tidak langsung dapat meningkatkan kualitas hidup. 

6. Mendekatkan diri dengan alam. Aku tak menemukan referensi terkait hal ini. Namun, faktor alam menurutku penting. Buatku, slow living adalah bagian dari pembelajaran spiritualitas. Dan alam adalah guru yang mumpuni dalam soal mengasah spiritualitas.  

Gambaran di atas lebih melengkapi jawaban untuk pertanyaan sebelumnya, kan? Jadi, pilihan slow living bukan hanya untuk kalangan 40 tahun plus, kalangan pensiunan, kalangan yang sudah punya passive income

Namun, sepertinya tetap, ya, S&K berlaku. Urusan finansial paling tidak sudah aman dan tidak punya tanggungan meskipun belum punya passive income. Kamu akan kesulitan menjalani hidup yang tenang jika punya hutang dalam jumlah besar, atau hutang di mana-mana. Meski sudah berusaha hidup sederhana dengan mengatur pola konsumsi, pada tingkatan tertentu tetap akan menyulitkan. Sambil menyiapkan semua perangkat, bisa mulai belajar soal perencanaan keuangan.

Pada akhirnya menjalani slow living memang sangat personal. Hitungan, takaran, dan pertimbangan tiap orang berbeda-beda. Hal yang utama adalah bagaimana konsep ini membantu kita untuk hidup sebaik-baiknya, bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, serta makhluk dan alam sekitar.

The Most Precious of Cargoes, Kisah Muram Penyintas Holocaust

Saat berselancar di dunia maya, tak sengaja berjumpa dengan ini film. Awalnya agak ragu. Sedang butuh hiburan, tapi dari poster filmnya tampak muram. Tetap, dilanjutkan menonton dan aku tidak menyesal. Film ini rilis dalam bahasa Perancis, La Plus Précieuse des Marchandises. Atau dalam versi Inggrisnya, The Most Precious of Cargoes. Film yang dirilis pada 2024 lalu ini digarap oleh sutradara peraih Oscar, Michel Hazanavicius.



Baca juga: Black Book, Kisah Perjuangan Perempuan Yahudi

Filmnya memang muram. Apalagi latarnya adalah kemiskinan, konflik ras, dengan nuansa yang didominasi warna putih abu salju. Namun, ada nilai kebaikan universal yang ditawarkan film ini. 


Sinopsis

Kisah bermula pada sebuah hari yang gelap bersalju. Seorang perempuan, istri penebang kayu yang sedang mencari makanan di hutan sekitar rumahnya mendengar tangisan bayi. Tak jauh dari rel kereta api, dilihatnya sebuah bungkusan yang ternyata berisi bayi perempuan. Istri penebang kayu tak menimbang lama untuk membawa bayi itu pulang. Tak mungkin ia membiarkan makhluk mungil itu beku di luaran. Di sisi lain, ia meyakini bayi itu adalah kiriman dari Tuhan setelah sekian lama ia hanya hidup berdua dengan sang suami tanpa hadirnya seorang anak.

Kebingungan mulai menyergapnya begitu ia sampai rumah. Ia harus kasih makan apa itu bayi? Dalam kemiskinannya, tak mungkin ia belanja susu untuk bayi tersebut. Tak kehilangan akal, perempuan itu mendatangi tetangganya yang memelihara domba. Ia mengajukan penukaran, ranting kayu dengan susu. Sang tetangga yang ditampilkan sebagai sosok yang sangar, ternyata memiliki kebaikan hati. Ia bersedia menyediakan susu buat si bayi.

Masalah berikutnya adalah saat sang suami mengetahui sosok bayi itu. Di pikirannya hanya ada satu: tidak mungkin! Karena menerima keberadaan bayi itu di rumah mereka artinya mencari masalah.


Baca juga: Pangku, Cermin Getir Perempuan di Pesisir Jawa


Film ini mengambil latar Perang Dunia II, pasca peristiwa Holocaust. Pasangan miskin, penebang kayu dan istrinya ini tinggal di pedalaman hutan Polandia. 

Siapa sebenarnya bayi itu? Yup, bisa ditebak. Ia adalah anak penyintas Holocaust. Bayi itu adalah salah satu anak dari anak kembar pasangan yang sedang dalam perjalanan menuju Auschwitz. Suasana menegangkan, saat ribuan orang membutuhkan suaka dan di tengah ketidakpastian, pasangan Yahudi ini kewalahan dengan keluarga kecil mereka. Begitu si suami mendapati istrinya tak cukup memiliki ASI untuk kedua anak kembarnya, ia memutuskan untuk membuang salah satunya. Tampaknya lemparan itu cukup aman hingga si bayi ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. 

Namun, ya itu ... masalah bapak penebang pohon menolak keras bayi itu ada di rumah mereka. Butuh waktu lama untuk meluluhkan laki-laki itu. Awalnya ia menolak keras. Akhirnya ia menyerah saat istrinya mengancam akan pergi jika ia harus kembali membuang itu bayi. Penerimaan pun bersyarat, ia tak mau tahu dengan keberadaan bayi tersebut. Berkat ketelatenan sang istri, dan secara alamiah sesungguhnya ada kebaikan tersembunyi di hatinya, diam-diam laki-laki itu tumbuh sayang kepada gadis kecil Yahudi tersebut. Ia bahkan menerima dengan tangan terbuka, menganggap gadis kecil itu sebagai buah hatinya.

Penerimaan itu harus dibayar mahal. Dalam sebuah perbincangan dengan sesama penebang, keluarlah pernyataan si bapak. Sesuatu yang terhubung dengan keberadaan seorang asing. Seorang yang terlarang. Tak lama berselang pecahlah pertikaian. Lelaki penebang kayu itu terbunuh setelah ia terlebih dulu mencederai mereka yang mengacau rumahnya. Lelaki pemilik peternakan juga ikut terbunuh dalam rangkaian peristiwa itu. 

Sang istri penebang segera mengambil keputusan cepat. Ia bawa gadis kecil itu menjauh dari hutan, memulai kehidupan baru. Hidup berpihak kepada mereka. Kelak bapak dari bayi buangan itu berhasil dipertemukan dengan anaknya, meski hanya melihat dari jauh.


Baca juga: The Fighter, Film tentang Keluarga dan Pengorbanan


Potret Muram Jejak Holocaust

Memang ada film yang bersinggungan dengan Holocaust tampil dalam nuansa ceria? Hmmm ... rasanya sih belum pernah nonton. Yang sudah tertonton semuanya dalam nuansa muram. Begitu pula The Most Precious of Cargoes yang adalah film animasi ini. 

Film ini merupakan hasil adaptasi dari novel karya Jean-Claude Grumberg yang juga dilibatkan dalam penulisan naskah. Gumberg menerbitkannya pada 2019, dan filmnya baru rilis 5 tahun kemudian. Sebetulnya Hazanavicius mendapatkan proyek ini pada tahun yang sama dengan kemunculan novelnya. Sayangnya proses tidak dilanjutkan karena pandemi COVID-19, dan baru dilanjutkan kembali tiga tahun kemudian.

Ada beberapa fakta menarik terkait film ini.

Hazanavicius adalah bagian dari keluarga penyintas. Pada masanya, keluarganya melarikan diri dari Nazi di Eropa Timur. Awalnya ia enggan mengerjakan proyek tersebut. Namun, akhirnya kisah yang ditulis oleh seorang teman lama keluarga itu berhasil menyentuh perasaannya. Terlebih ia menyadari kondisi kesehatan para penyintas tersisa kemungkinannya sudah tak baik-baik saja. Ia pun tertantang untuk menggarap film animasi, jenis film yang belum pernah ia tangani.

Fakta lainnya adalah bahwa narator dalam film ini, Jean-Louis Trintignant meninggal dunia tak lama setelah suaranya direkam. Ia tak pernah menikmati hasil akhir karyanya tersebut. 

Baca juga: Unforgiven, Film Clint Eastwood yang Panen Penghargaan

Sebelum dimulai penggarapan film, telah dimulai publikasinya yang di antaranya menyebutkan pengisi suara Penebang Kayu adalah Gérard Depardieu. Saat akhirnya dimulai prosesnya,   Depardieu dikeluarkan dari daftar pemeran karena pada saat itu namanya sedang muncul sebagai tertuduh kasus pemerkosaan dan penyerangan seksual. Posisinya digantikan oleh Grégory Gadebois.

The Most Precious of Cargoes dirilis di Prancis pada 20 November 2024, terpilih untuk berkompetisi memperebutkan Palme d'Or di Festival Film Cannes ke-77 pada 24 Mei 2024. Momentum ini sekaligus menjadi waktu tayang perdana film ini; film animasi pertama yang ditayangkan dalam kompetisi utama di Cannes sejak Waltz with Bashir karya Ari Folman pada 2008.

Meski muram, film ini layak tonton. Terutama bagi penggemar film-film animasi dan film dengan latar sejarah dunia. Sepertinya buat tontonan ke depan masih akan cari film animasi. Buat penggemar film Korea, maafkan, sangat jarang nonton. Kalau butuh rekomendasi, cek sini: Spoiler Ending dan ulasan film Korea.

Sampai ketemu di film berikutnya.


Baca juga: Film Mafia yang Layak Tonton di Malam Minggu

Franca Viola, Perempuan Muda yang Berani Guncang Hukum dan Tradisi

Membaca kisahnya membuatku berpikir bahwa masih begitu banyak hal yang bisa disyukuri di masa kini. Bukan berarti menafikan berbagai persoalan kesenjangan terkait gender, namun tak ada salahnya mensyukuri hal-hal sederhana. Masih banyak PR yang menjadi tugas kita untuk menyelesaikannya. Dan mari belajar dari seorang Franca Viola, yang pada zamannya telah berani menentang tradisi yang demikian menyudutkan dan menempatkan perempuan di posisi yang demikian rendah.


Baca juga: Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Pencegahannya

Keberanian Franca Viola telah mencatatkan sejarah, terutama terkait hukum dan keadilan berbasis gender. Topik ini masih menjadi persoalan di berbagai negara. Termasuk Italia, negaranya Franca Viola. Perjuangan masih panjang.   


Perempuan Muda yang Menuntut Keadilan

Kisah ini bermula dari sebuah kota kecil bernama Alcamo, di pulau Sisilia. Nama kawasan yang barangkali cukup akrab di telinga para penggemar film mafia. Nama ini terutama nempel di film epik klasik yang mengangkat kisah keluarga mafia Corleone. Ada sejumlah film tentang mafia Italia yang juga menyebutkan dengan jelas kawasan ini. Namun, ini bukan kisah tentang mafia. Ini tentang seorang perempuan sederhana, tetapi memiliki tekad sekuat baja.

Namanya Franca Viola. Pada penghujung tahun 1965, ia berusia 17 tahun. Gadis muda ini memiliki seorang kekasih, Filippo Melodia. Kekasihnya sudah mengenal keluarganya, orang tua dan adik laki-lakinya, Mariano, yang baru berusia 8 tahun. Ketika suatu kali akhirnya Franca mengetahui latar belakang keluarga Melodia yang adalah mafia, ia memilih mundur. Sayangnya, lelaki itu tak terima diputuskan hubungan secara sepihak. Apa yang terjadi kemudian sama sekali di luar perkiraan Franca dan keluarganya. Franca diculik!

Saat itu sehari setelah perayaan Natal, 26 Desember 1965. Sekelompok laki-laki bersenjata menerobos masuk rumah sederhana keluarga Franca. Ayah Franca, Bernardo, sedang bekerja di ladang anggur keluarga. Hanya bersama ibu dan adik kecilnya, Franca tak sanggup melawan. Ibunya kena pukul, sedangkan ia dan Mariano dibawa pergi secara paksa. 

Tak beberapa lama, Mariano dilepaskan. Sedangkan Franca disekap dalam sebuha ruangan. Ia disiksa dan diperkosa selama 8 hari dalam penyekapan. Aturan Italia saat itu memberikan mandat kepada pelaku pemerkosaan untuk menikahi korban, agar terbebas dari jerat hukum. Hukum yang disebut “matrimonio riparatore” itu didasari oleh anggapan bahwa pernikahan dapat “mengembalikan kehormatan” perempuan korban. Bukan keadilan. Namun, kehormatan; itu pun dalam versi mereka. 

Alih-alih menerima tawaran pernikahan demi menyelamatkan kehormatan, Franca datang ke kantor polisi untuk menuntut Filippo Melodia ke pengadilan. Franca tidak sendiri. Sang ayah erat menggandeng tangannya.


Baca juga: Laki-Laki dan Peran Pentingnya dalam Kekerasan Berbasis Gender


Kata "Tidak" yang Mengubah Sejarah

Tak lama setelah pembebasannya dari sekapan Melodia, Franca sudah langsung disodori opsi untuk menikah dengan pelaku. Dorongan bukan hanya datang dari pihak Melodia. Orang-orang yang ada di sekelilingnya, tetangga, teman, keluarga jauh, semuanya berpikir hal yang sama bahwa Franca harus “menyelesaikan masalah” dengan menikah. Dengan begitu kehormatan Franca tetap terjaga. 

Franca menolak. Opsi itu bukan untuknya. 

Penolakan itu bukan hanya membuat berang keluarga Melodia. Warga sekitar pun mencelanya. Mereka menganggap Franca telah mengangkangi tradisi. Bukan sekadar sikap menjauhi dan kata-kata hinaan yang mereka lontarkan. Bahkan mereka membakar ladang keluarga Franca. 

Franka tidak surut. Dengan ayah yang berdiri tegak di sisinya, bersikeras menuntut keadilan. Lelaki itu sadar betul, keputusan Franca akan membawa masalah besar. Namun, ia memilih memberikan dukungan sepenuhnya bagi anak perempuannya; melindungi kebenaran dan kehormatan anaknya dan bukan mempertahankan tradisi yang menindas.

Apa yang dilakukan Franca memunculkan kegemparan yang luas. Bagaimana tidak, seorang perempuan muda berani menentang hukum dan tradisi yang ratusan tahun dijadikan pijakan dalam penanganan masalah perkosaan. Dan Franca menang. Upayanya tidak sia-sia. Semua hinaan, celaan, dan cibiran orang yang ditelannya dengan susah payah itu membuahkan hasil. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara selama 11 tahun kepada Filippo Melodia.


Baca juga: Tetap Bahagia dan Giat Berkarya saat Menjalani Hidup Sendiri


Keberanian yang Mengubah Masa Depan

Peristiwa yang terjadi di kota kecil bernama Alcamo, di pulau Sisilia itu menjadi topik pembicaraan nasional. Media massa menurunkan berita perkembangan kasusnya. Franca Viola, gadis berusia belasan tahun itu menjadi perempuan pertama di Italia yang secara terbuka menuntut pelaku pemerkosaan dan menolak mengikuti tradisi “pernikahan pemulihan”. 

Sejumlah tokoh menunjukkan apresiasinya. Presiden Italia saat itu, Giuseppe Saragat, menyampaikan pujian atas keberanian gadis itu. Bahkan Paus Paulus VI memberikan dukungan moral dengan menemuinya secara pribadi. Sebagai seorang gadis muda--dengan kasusnya itu--Franca tentu saja dihadapkan pada rasa malu, terhina, takut, namun ia memilih berani mengubah keadaan. 

Franca tidak hanya memenangkan kasus tersebut. Ia telah berhasil mengguncang sistem hukum dan budaya di negaranya. Meski demikian tak serta merta hukum dan tradisi itu ditiadakan. Dibutuhkan waktu 15 tahun untuk betul-betul menggoncang sistem tersebut. Pada 1981, akhirnya hukum “pernikahan pemulihan” dihapuskan dari sistem hukum Italia. 

Selang dua tahun dari peristiwa tersebut, Franca menikah dengan teman masa kecilnya, Giuseppe Ruisi. Mereka menjalani pernikahan yang bahagia, damai dan tenang membesarkan anak dan cucu; jauh dari sorotan publisitas. Meski demikian, publik mengenang Franca Viola sebagai pelopor hak-hak perempuan di Italia. 

Dapatkan tips pernikahan bahagia dan rumah tangga harmonis di blog deestories.


Baca juga: Menjadi Perempuan Mandiri dan Merdeka